rasa cinta budaya
31 Juli 2005 at 1:37 am | In Uncategorized | Leave a CommentMalam sudah larut. Warnet juga sudah sepi.
“Saking pundi, Pak”(dari mana pak), tanya seorang penunggu kepada seseorang yang baru datang. Dia sama seperti aku. Hanya bedanya yang dia tunggu adalah beberapa baki plastik isi gorengan; dan dua ceret yang nongkrong di atas tungku dengan arang membara.
“Bar nonton wayang, Mas” jawab yang ditanya.
“O,…wonten wayang to, Pak”
“Enten, ten SMU 5″
Aku tidak bisa tidak mendengar perbincangan mereka karena jarak mereka dengan aku tidak begitu jauh. Dan juga, gelombang suara mereka merambat sangat baik hingga nyangkut di telingaku.
Sudah masuk jamnya warnet untuk tutup. Setelah mematikan komputer client dan komputer billing serta server, aku kunci pintu warnet. iseng-iseng aku pergi ke SMU 5. Mata ini belum ngantuk. Lagian juga malam minggu(malam yang panjang, gitu loooh.)
Sesampainya di SMU 5, aku menghampiri orang yang duduk bergerombol. Mereka memperhatikan sesuatu di depan mereka. Di tengah² mereka ada dua buah papan catur. O,…. itu to.
Kontras sekali. Di desaku sana, pertunjukan wayang orang merupakan tontonan yang laris manis. Bukan bagi bapak² yang usianya sudah berkepala 5 keatas, tapi juga para kawula mudanya. Dari yang nonton wayang, sampai nonton orang nonton wayang. Dari yang pasang nomer, sampai yang cuman menuruti gengsi : masak desa sebelah nanggap wayang koq tidak tahu kabar beritanya.
Aku tidak tahu sampai kapan lagi warisan budaya ini mampu bertahan. Di solo, kulihat para pemuda yang notabenenya adalah generasi penerus, lebih memilih nongkrong di cafe atau nge-dance di pinggir² jalan daripada menikmati sebuah wejangan² dari Pak Dalang. Kalau dibilang kuno, secara performance memang kuno, tetapi bukan berarti para tokoh pewayangan tidak mengikuti perkembangan zaman. Isu² up to date tidak jarang mereka bicarakan di depan kelir. Dengan terangnya lampu (namanya apa sieh, aku lupa) mereka memberikan nasihat² yang padat dengan manfaat.
Tapi aku mulai ngantuk nieh….
mo tidur dulu aaaah…………….
30 Juli 2005 at 10:01 pm | In Uncategorized | Leave a Comment
Haloscan commenting and trackback have been added to this blog.
rasa cinta budaya
30 Juli 2005 at 6:37 pm | In Uncategorized | Leave a CommentMalam sudah larut. Warnet juga sudah sepi.
“Saking pundi, Pak”(dari mana pak), tanya seorang penunggu kepada seseorang yang baru datang. Dia sama seperti aku. Hanya bedanya yang dia tunggu adalah beberapa baki plastik isi gorengan; dan dua ceret yang nongkrong di atas tungku dengan arang membara.
“Bar nonton wayang, Mas” jawab yang ditanya.
“O,…wonten wayang to, Pak”
“Enten, ten SMU 5″
Aku tidak bisa tidak mendengar perbincangan mereka karena jarak mereka dengan aku tidak begitu jauh. Dan juga, gelombang suara mereka merambat sangat baik hingga nyangkut di telingaku.
Sudah masuk jamnya warnet untuk tutup. Setelah mematikan komputer client dan komputer billing serta server, aku kunci pintu warnet. iseng-iseng aku pergi ke SMU 5. Mata ini belum ngantuk. Lagian juga malam minggu(malam yang panjang, gitu loooh.)
Sesampainya di SMU 5, aku menghampiri orang yang duduk bergerombol. Mereka memperhatikan sesuatu di depan mereka. Di tengah² mereka ada dua buah papan catur. O,…. itu to.
Kontras sekali. Di desaku sana, pertunjukan wayang orang merupakan tontonan yang laris manis. Bukan bagi bapak² yang usianya sudah berkepala 5 keatas, tapi juga para kawula mudanya. Dari yang nonton wayang, sampai nonton orang nonton wayang. Dari yang pasang nomer, sampai yang cuman menuruti gengsi : masak desa sebelah nanggap wayang koq tidak tahu kabar beritanya.
Aku tidak tahu sampai kapan lagi warisan budaya ini mampu bertahan. Di solo, kulihat para pemuda yang notabenenya adalah generasi penerus, lebih memilih nongkrong di cafe atau nge-dance di pinggir² jalan daripada menikmati sebuah wejangan² dari Pak Dalang. Kalau dibilang kuno, secara performance memang kuno, tetapi bukan berarti para tokoh pewayangan tidak mengikuti perkembangan zaman. Isu² up to date tidak jarang mereka bicarakan di depan kelir. Dengan terangnya lampu (namanya apa sieh, aku lupa) mereka memberikan nasihat² yang padat dengan manfaat.
Tapi aku mulai ngantuk nieh….
mo tidur dulu aaaah…………….
30 Juli 2005 at 3:01 pm | In Uncategorized | Leave a Comment
Haloscan commenting and trackback have been added to this blog.
07:20 am
28 Juli 2005 at 3:08 pm | In Uncategorized | Leave a Comment07 : 20 am.
DEG……….!!!!
Aku tersentak. Kuhentakkan selimut seketika. Aku langsung beranjak dari kasur.
Kuliah PDB sudah dimulai 20 menit yang lalu. Terlambat 15 menit berarti tidak ada absen! Sekarang ?…. 2o menit dari jam 7 pagi. Berarti aku sudah telat 20 menit. Masih di rumah juga. Di kamar. Belum mandi, …ganti baju,…. dandan,….
Bolos…..
Absenku sudah ada tanda silang 2 buah. Kalo sekarang tidak masuk lagi, berarti : 3 kali aku tidak masuk kuliah = 3 silangan. berarti sudah mencapai ambang batas nieh!!!
Nyesel….
kenapa juga tadi pulang kerja pake tidur lagi. padahal jam 06.15 juga sudah bangun. But, matiin alarm trus tidur lagi! ketika bangun,….eeee,….sudah,….
07 : 20 am.
07:20 am
28 Juli 2005 at 8:08 am | In Uncategorized | Leave a Comment07 : 20 am.
DEG……….!!!!
Aku tersentak. Kuhentakkan selimut seketika. Aku langsung beranjak dari kasur.
Kuliah PDB sudah dimulai 20 menit yang lalu. Terlambat 15 menit berarti tidak ada absen! Sekarang ?…. 2o menit dari jam 7 pagi. Berarti aku sudah telat 20 menit. Masih di rumah juga. Di kamar. Belum mandi, …ganti baju,…. dandan,….
Bolos…..
Absenku sudah ada tanda silang 2 buah. Kalo sekarang tidak masuk lagi, berarti : 3 kali aku tidak masuk kuliah = 3 silangan. berarti sudah mencapai ambang batas nieh!!!
Nyesel….
kenapa juga tadi pulang kerja pake tidur lagi. padahal jam 06.15 juga sudah bangun. But, matiin alarm trus tidur lagi! ketika bangun,….eeee,….sudah,….
07 : 20 am.
lika-liku penunggu (17+)
28 Juli 2005 at 1:01 am | In Uncategorized | Leave a CommentJamantek alias Jaminan Iman Tenaga Kerja. Yang ini ada gak ya,….
Yang pasti, yang satu ini belum ada lembaga atau instansi yang mengurusi. Harus diurus sendiri². Mandiri banget gito loooh!!!
Setiap pekerjaan pasti ada resikonya. Entah besar atau kecil, kehadiran mas Resiko merupakan sebuah keniscayaan.
Seperti pekerjaan yang aku jalani ini, banyak sekali resikonya. kalo iman tidak kuat, bisa² carut – marut nieh mental.
Tempo hari, ada seorang Bapak² datang ke warnet. Dari penampilan, sepertinya sudah sekitar limapuluhan tahun. Nieh bapak mau ngerental atau mau minta tolong apa ya,….
“Mari, Pak…”
“E,…Mas,…mau internetan”
“O, ya,…silakan”
aku menunjuk komputer client nomer 3. Orang² dengan tampang-maaf ya Pak-seperti dia biasanya mencari komputer yang “strategis”. Komputer yang ku tunjukkan kebetulan kosong, dan letaknya memang sangat menguntungkan.
“Tapi saya diajari ya, Mas” pintanya.
Tidak seperti dugaanku, ternyata bapak ini gaptek juga.
Kuantarkan dia di komputer client nomer 3. Aku ajari dia bagaimana masuk billing, sampai menggunakan internet.
“Untuk berinternet, bapak bisa klik dua kali huruf ini” panduku sambil mengarahkan kursor ke huruf “e” di desktop.
klik,…klik,…..
“kalo sudah,… tunggu sebentar sampai muncul jendela baru…naah kayak gini.”
“alamat web yang ingin dibuka diketikkan di sini ini, Pak” kucoba menjelaskan dengan “bahasa pasar” agar mudah dimengerti. “bapak mau buka website apa ?”, tanyaku kemudian.
beberapa saat bapak itu terdiam.
“atau gini aja, bapak mau mencari informasi tentang apa, Pak” kuubah pertanyaanku berharap bapak itu tanggap.
Dia memandangi keyboard beberapa saat. Lalu mulai mengetik dengan jari telunjuknya.
“S……..”, sorot matanya menyapu keyboard. lalu dia mengetik lagi “…E….”, lagi² dia mencari huruf yang hendak diketikkan. Sementara dia sibuk mencari, aku mencoba menebak kata apa yang akan beliau ketik. Belum sempat aku menerka, bapak itu sudah menekan tombol keyboard,…”…X…”.
OPS!!! Waduh, nieh bapak, tua² masih nyari yang kayak gituan. Dadaku berdegup kencang. Aku memandangi paras polosnya. Segera aku alihkan pandangan menuju monitor dan,…
“o,…kalo bapak mau nyari yang kayak gituan, bapak bisa buka ini,…” (coba tebak aku mau mengetikkan apa hayo!)
we we we dot gugel dot kom. mulutku mengeja kata yang aku ketikkan.
“kalo sudah, bapak bisa mengetikkan apa yang bapak cari di sini….”
Duh,… serba salah. (iya gak ya….). Di satu sisi, bapak ini butuh bimbingan. Tetapi di sisi lain, koq dia minta dibimbing yang ke arah “situ”. Memang sieh aku sudah 17+, tapi bagaimana kalo kepengen hayo…..huahahahaha… bisa berabe.
Itu salah satu hal yang pernah aku alami selama kerja sebagai “penunggu”. Ada lagi,…
Malam belum cukup larut. Warnet sepi pengunjung. Seorang mas², gemuk, putih, kelihatannya sieh mix!, masuk warnet dan,…
“yang bisa dipakai yang mana, Mas ?” tanya dia kepadaku.
aku menunjukkan beberapa komputer yang nganggur tidak terpakai.
Kurang lebih satu jam beliau bermain internet. Ku remote dari komputer billing, dia tidak membuka website yang “aneh²”. Lagian kalau dilihat dari tampangnya, dia tidak seperti orang yang suka mencari deterjen mata di dunia maya.
Dia beranjak dari kursi dan menuju ke komputer billing dimana aku duduk.
“Kalo mindah file ke CD bisa, Mas ?”
“O,..bisa, Mas”, jawabku.
“Mmmmm,…gimana ya,…sebenarnya saya malu…”, katanya kemudian.
“Malu kenapa, Mas ?”, usutku.
“Soalnya CD dago…”katanya.
“Dago..? Dago itu apa sieh, Mas ?” tanyaku ketika aku merasa asing dengan istilah itu.
“Gini aja, coba filenya dibuka dulu ya, Mas, bisa jalan tidak. Kalo bisa nanti di copy ke CD kalo tidak bisa ya tidak jadi saja.” kemukanya.
“O,…ya…”, aku mengiyakan.
Sebelum membuka filenya, aku sudah menebak. Paling² filenya nanti tidak jauh² dari “itu”.
“yang file ke dua aja, Mas”, pinta mas² itu.
Aku klik kanan, open with, windows media player. Lhah dalah lak tenan to,…. File itu langsung menampakkan adegan seorang Adam dan Hawa di tempat tidur,… Aduuuuh,…. aku langsung gemetaran.
“Ya sudah, Mas, berarti bisa.” bicaranya sekaligus menginstruksikan kepadaku untuk menghentikan video itu.
Begitulah,…. Aku harus tebal iman.
Apalagi yang barusan,…
Seorang pemuda berambut gondrong menghampiri Mas Joko, penjual susu segar di depan warnet, yang kebetulan juga sedang membuka-buka web blablabla… Mereka bercakap-cakap.
“Eh, Po,…ono duwit ra, Po ? Telung atus wae. Iki ini wong butuh.” Tanya mas Joko kepadaku.
Sempat aku su’udlon : wah, cowok yang barusan masuk pasti garong!
“Yen ono, barang iki gowonen dhisik“, dia menyodorkan Nokia6600. WOW, siapa yang gak mau, Rp 300.000,- = Nokia6600. Di hati ini ada hasrat memilikinya. Bagus sekali, sieh.
Tapi halal tidak ya,…
“Yen ono bayaren wae” desak mas Joko lagi.
“aku ra nduwe duwit koq, Mas” kataku dengan sedikit menyesal. Kenapa honor asistenku belum cair ya,…kalo sudah khan aku bisa gunakan untuk mbayar HP itu.
“Opo nyiliho duwit warnet dhisik wae…“, desaknya lagi.
Hatiku bergejolak.
Mmmmm,…aku bisa saja pinjam uang warnet, tapi nanti gimana caranya bilang ke Big Boss ?Atau seandainya tidak selarut ini, aku bisa jual HPku untuk gantian membayar HP itu. Bayangkan!!! Rp 300rb = Nokia6600.
Tapi apa barang itu halal ? Barang tidak halal khan biasanya tidak bertahan lama. Mudah hilang. Tidak membawa berkah. Contoh sepele : pulpen temuan. Gak ada koq pulpen yang sering aku temukan bisa bertahan lama…
“Wah, aku ora wani, Mas“. Akhirnya, kata pamungkas itu keluar dari mulutku.
Duuuh,.. Gusti paringono kandel iman.
kuis
27 Juli 2005 at 8:39 pm | In Uncategorized | Leave a CommentDengan buru-buru aku tutup pintu warnet. bagaimana tidak, sudah hampir jam setengah enam pagi. kuliah jam pertama akan dimulai satu setengah jam lagi. untuk perjalanan pulang : 30 menit. mandi, ganti baju, dandan (ops) : 20 menit. perjalanan ke kampus : 20 menit. total : 1 jam 10 menit. masih sisa : 20 menit. lumayan.
embun pagi tidak begitu mengurangi jarak pandanganku. namun hawa dingin cukup mampu membuatku menggigil. ouuuugh,….dingin sekaleee…. Ku coba menutupi punggung telapak tangan dengan ujung lengan jaket. nihil. jaketku sudah ciupet. kekecilan, mbak yu! sesekali lenganku ku silangkan di depan dada. kupeluk diriku sendiri (weleh…).
di tengah perjalanan, aku baru inget kalo aku belum belajar untuk mempersiapkan kuis nanti siang. probabilitas. heran juga, hampir 90 % mahasiswa yang diwajibkan ngambil mata kuliah ini tidak lulus. yang lulus pun, nilainya gak ada yang B. paling mentok 2,5.
salah siapa,…ini salah siapa,… jawabnya ada di relung hati ini,… (Ebiet G. Ade)
dan sekarang ini, mereka, termasuk aku juga sieh (….”kami” kali ya…) mencoba menyelamatkan diri dengan mengikuti SP (semester pendek/semester penyelamat).
kuliah jam pertama : PDB-Persamaan Differensial Biasa. Yang “biasa” saja susahnya bukan main, apa lagi yang “luar biasa”,… luar biasa bukan main susahnya, kali. bikin perut laper, nguantux, pokoknya gak ikhlas kuliah dah!!
Sambil nyatet : transformasi Laplace, sesekali aku memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk membuka buku probabilitas. abis gimana lagi, aku khan belum belajar. masak mau gak lulus lagi,…iiih tatuuuuuuuuut!!!
perutku mulai keroncongan. mata sudah sempet merem, tadi. suara pak dosen juga sesekali ngilang dari pendengaran, coz aku,….t***r.(ssst….jangan bilang² yaa…).
ketidakikhlasanku memuncak ketika pak dosen mblandangke jam. TIME IS OVER, Pak!!! Lha koq malah nulis soal buat dikerjakan lagi!!! saya belum sarapan nieh pak,…kasihan nieh perut, pak…hiks,…
sewaktu kuis,…alhamdulillah bisa ngerjakan walaupun banyak yang ngawur. yang penting keisi. kalo folionya penuh tulisan khan gak ketara gak bisanya
soal nomer 3 itu lho yang mbingungke. soalnya gini nieh :
3.a. Berapa banyak kata dengan 7 huruf yang dapat disusun dari kata “RAHASIA” dengan asumsi bahwa huruf A dapat muncul 3 kali.
3.b. Berapa banyak kata dengan 3 huruf yang dapat disusun dari kata “RAHASIA” dengan asumsi bahwa huruf A dapat muncul 3 kali.
3.c. Berapa banyak kata yang dapat disusun dari kata “RAHASIA” dengan asumsi bahwa huruf A dapat muncul 3 kali.
Yaaah,…moga aja SP ini bisa menyelamatkan nilaiku.
pengen cepet lulus trus ker! enak kali ya kalo dah gak kuliah trus ker,…
duitnya banyak, gak harus belajar buat nyiapin kuis, gak harus ngadepi dosen yang …., ….
kapan yaaa…..
lika-liku penunggu (17+)
27 Juli 2005 at 6:01 pm | In Uncategorized | Leave a CommentJamantek alias Jaminan Iman Tenaga Kerja. Yang ini ada gak ya,….
Yang pasti, yang satu ini belum ada lembaga atau instansi yang mengurusi. Harus diurus sendiri². Mandiri banget gito loooh!!!
Setiap pekerjaan pasti ada resikonya. Entah besar atau kecil, kehadiran mas Resiko merupakan sebuah keniscayaan.
Seperti pekerjaan yang aku jalani ini, banyak sekali resikonya. kalo iman tidak kuat, bisa² carut – marut nieh mental.
Tempo hari, ada seorang Bapak² datang ke warnet. Dari penampilan, sepertinya sudah sekitar limapuluhan tahun. Nieh bapak mau ngerental atau mau minta tolong apa ya,….
“Mari, Pak…”
“E,…Mas,…mau internetan”
“O, ya,…silakan”
aku menunjuk komputer client nomer 3. Orang² dengan tampang-maaf ya Pak-seperti dia biasanya mencari komputer yang “strategis”. Komputer yang ku tunjukkan kebetulan kosong, dan letaknya memang sangat menguntungkan.
“Tapi saya diajari ya, Mas” pintanya.
Tidak seperti dugaanku, ternyata bapak ini gaptek juga.
Kuantarkan dia di komputer client nomer 3. Aku ajari dia bagaimana masuk billing, sampai menggunakan internet.
“Untuk berinternet, bapak bisa klik dua kali huruf ini” panduku sambil mengarahkan kursor ke huruf “e” di desktop.
klik,…klik,…..
“kalo sudah,… tunggu sebentar sampai muncul jendela baru…naah kayak gini.”
“alamat web yang ingin dibuka diketikkan di sini ini, Pak” kucoba menjelaskan dengan “bahasa pasar” agar mudah dimengerti. “bapak mau buka website apa ?”, tanyaku kemudian.
beberapa saat bapak itu terdiam.
“atau gini aja, bapak mau mencari informasi tentang apa, Pak” kuubah pertanyaanku berharap bapak itu tanggap.
Dia memandangi keyboard beberapa saat. Lalu mulai mengetik dengan jari telunjuknya.
“S……..”, sorot matanya menyapu keyboard. lalu dia mengetik lagi “…E….”, lagi² dia mencari huruf yang hendak diketikkan. Sementara dia sibuk mencari, aku mencoba menebak kata apa yang akan beliau ketik. Belum sempat aku menerka, bapak itu sudah menekan tombol keyboard,…”…X…”.
OPS!!! Waduh, nieh bapak, tua² masih nyari yang kayak gituan. Dadaku berdegup kencang. Aku memandangi paras polosnya. Segera aku alihkan pandangan menuju monitor dan,…
“o,…kalo bapak mau nyari yang kayak gituan, bapak bisa buka ini,…” (coba tebak aku mau mengetikkan apa hayo!)
we we we dot gugel dot kom. mulutku mengeja kata yang aku ketikkan.
“kalo sudah, bapak bisa mengetikkan apa yang bapak cari di sini….”
Duh,… serba salah. (iya gak ya….). Di satu sisi, bapak ini butuh bimbingan. Tetapi di sisi lain, koq dia minta dibimbing yang ke arah “situ”. Memang sieh aku sudah 17+, tapi bagaimana kalo kepengen hayo…..huahahahaha… bisa berabe.
Itu salah satu hal yang pernah aku alami selama kerja sebagai “penunggu”. Ada lagi,…
Malam belum cukup larut. Warnet sepi pengunjung. Seorang mas², gemuk, putih, kelihatannya sieh mix!, masuk warnet dan,…
“yang bisa dipakai yang mana, Mas ?” tanya dia kepadaku.
aku menunjukkan beberapa komputer yang nganggur tidak terpakai.
Kurang lebih satu jam beliau bermain internet. Ku remote dari komputer billing, dia tidak membuka website yang “aneh²”. Lagian kalau dilihat dari tampangnya, dia tidak seperti orang yang suka mencari deterjen mata di dunia maya.
Dia beranjak dari kursi dan menuju ke komputer billing dimana aku duduk.
“Kalo mindah file ke CD bisa, Mas ?”
“O,..bisa, Mas”, jawabku.
“Mmmmm,…gimana ya,…sebenarnya saya malu…”, katanya kemudian.
“Malu kenapa, Mas ?”, usutku.
“Soalnya CD dago…”katanya.
“Dago..? Dago itu apa sieh, Mas ?” tanyaku ketika aku merasa asing dengan istilah itu.
“Gini aja, coba filenya dibuka dulu ya, Mas, bisa jalan tidak. Kalo bisa nanti di copy ke CD kalo tidak bisa ya tidak jadi saja.” kemukanya.
“O,…ya…”, aku mengiyakan.
Sebelum membuka filenya, aku sudah menebak. Paling² filenya nanti tidak jauh² dari “itu”.
“yang file ke dua aja, Mas”, pinta mas² itu.
Aku klik kanan, open with, windows media player. Lhah dalah lak tenan to,…. File itu langsung menampakkan adegan seorang Adam dan Hawa di tempat tidur,… Aduuuuh,…. aku langsung gemetaran.
“Ya sudah, Mas, berarti bisa.” bicaranya sekaligus menginstruksikan kepadaku untuk menghentikan video itu.
Begitulah,…. Aku harus tebal iman.
Apalagi yang barusan,…
Seorang pemuda berambut gondrong menghampiri Mas Joko, penjual susu segar di depan warnet, yang kebetulan juga sedang membuka-buka web blablabla… Mereka bercakap-cakap.
“Eh, Po,…ono duwit ra, Po ? Telung atus wae. Iki ini wong butuh.” Tanya mas Joko kepadaku.
Sempat aku su’udlon : wah, cowok yang barusan masuk pasti garong!
“Yen ono, barang iki gowonen dhisik“, dia menyodorkan Nokia6600. WOW, siapa yang gak mau, Rp 300.000,- = Nokia6600. Di hati ini ada hasrat memilikinya. Bagus sekali, sieh.
Tapi halal tidak ya,…
“Yen ono bayaren wae” desak mas Joko lagi.
“aku ra nduwe duwit koq, Mas” kataku dengan sedikit menyesal. Kenapa honor asistenku belum cair ya,…kalo sudah khan aku bisa gunakan untuk mbayar HP itu.
“Opo nyiliho duwit warnet dhisik wae…“, desaknya lagi.
Hatiku bergejolak.
Mmmmm,…aku bisa saja pinjam uang warnet, tapi nanti gimana caranya bilang ke Big Boss ?Atau seandainya tidak selarut ini, aku bisa jual HPku untuk gantian membayar HP itu. Bayangkan!!! Rp 300rb = Nokia6600.
Tapi apa barang itu halal ? Barang tidak halal khan biasanya tidak bertahan lama. Mudah hilang. Tidak membawa berkah. Contoh sepele : pulpen temuan. Gak ada koq pulpen yang sering aku temukan bisa bertahan lama…
“Wah, aku ora wani, Mas“. Akhirnya, kata pamungkas itu keluar dari mulutku.
Duuuh,.. Gusti paringono kandel iman.
kuis
27 Juli 2005 at 1:39 pm | In Uncategorized | Leave a CommentDengan buru-buru aku tutup pintu warnet. bagaimana tidak, sudah hampir jam setengah enam pagi. kuliah jam pertama akan dimulai satu setengah jam lagi. untuk perjalanan pulang : 30 menit. mandi, ganti baju, dandan (ops) : 20 menit. perjalanan ke kampus : 20 menit. total : 1 jam 10 menit. masih sisa : 20 menit. lumayan.
embun pagi tidak begitu mengurangi jarak pandanganku. namun hawa dingin cukup mampu membuatku menggigil. ouuuugh,….dingin sekaleee…. Ku coba menutupi punggung telapak tangan dengan ujung lengan jaket. nihil. jaketku sudah ciupet. kekecilan, mbak yu! sesekali lenganku ku silangkan di depan dada. kupeluk diriku sendiri (weleh…).
di tengah perjalanan, aku baru inget kalo aku belum belajar untuk mempersiapkan kuis nanti siang. probabilitas. heran juga, hampir 90 % mahasiswa yang diwajibkan ngambil mata kuliah ini tidak lulus. yang lulus pun, nilainya gak ada yang B. paling mentok 2,5.
salah siapa,…ini salah siapa,… jawabnya ada di relung hati ini,… (Ebiet G. Ade)
dan sekarang ini, mereka, termasuk aku juga sieh (….”kami” kali ya…) mencoba menyelamatkan diri dengan mengikuti SP (semester pendek/semester penyelamat).
kuliah jam pertama : PDB-Persamaan Differensial Biasa. Yang “biasa” saja susahnya bukan main, apa lagi yang “luar biasa”,… luar biasa bukan main susahnya, kali. bikin perut laper, nguantux, pokoknya gak ikhlas kuliah dah!!
Sambil nyatet : transformasi Laplace, sesekali aku memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk membuka buku probabilitas. abis gimana lagi, aku khan belum belajar. masak mau gak lulus lagi,…iiih tatuuuuuuuuut!!!
perutku mulai keroncongan. mata sudah sempet merem, tadi. suara pak dosen juga sesekali ngilang dari pendengaran, coz aku,….t***r.(ssst….jangan bilang² yaa…).
ketidakikhlasanku memuncak ketika pak dosen mblandangke jam. TIME IS OVER, Pak!!! Lha koq malah nulis soal buat dikerjakan lagi!!! saya belum sarapan nieh pak,…kasihan nieh perut, pak…hiks,…
sewaktu kuis,…alhamdulillah bisa ngerjakan walaupun banyak yang ngawur. yang penting keisi. kalo folionya penuh tulisan khan gak ketara gak bisanya
soal nomer 3 itu lho yang mbingungke. soalnya gini nieh :
3.a. Berapa banyak kata dengan 7 huruf yang dapat disusun dari kata “RAHASIA” dengan asumsi bahwa huruf A dapat muncul 3 kali.
3.b. Berapa banyak kata dengan 3 huruf yang dapat disusun dari kata “RAHASIA” dengan asumsi bahwa huruf A dapat muncul 3 kali.
3.c. Berapa banyak kata yang dapat disusun dari kata “RAHASIA” dengan asumsi bahwa huruf A dapat muncul 3 kali.
Yaaah,…moga aja SP ini bisa menyelamatkan nilaiku.
pengen cepet lulus trus ker! enak kali ya kalo dah gak kuliah trus ker,…
duitnya banyak, gak harus belajar buat nyiapin kuis, gak harus ngadepi dosen yang …., ….
kapan yaaa…..
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.



