pramuka

21 April 2008 at 11:54 am | In Uncategorized | 5 Comments

Cahaya lampu philip save energy menerangi beberapa sudut saja ruang kamarku. sudut yang lain gelap karena masuk di daerah “umbra” meja dan monitor komputerku. lampu putih itu kupasang (kutancapkan) di stop kontak yang letaknya 50 cm saja dari lantai. tepat di depan lampu itu, sebuah logam panas meluncur kesana-kemari. berusaha menghaluskan sepotong baju seragam coklat: pramuka. dari lubuk hati yang paling dalam, aku tidak sreg memakai seragam ini. Pramuka, beri aku waktu untuk mencintaimu. Maaf ya, Pak Powel.

Sewaktu SD aku hanya mengenakannya begitu saja. Tanpa atribut lengkap. Tidak ada hasduk, baret, dan badge yang semestinya dijahit di lengan dan saku. Bapak dan Ibu guru tidak pernah memberikan teguran perihal seragam kami. Mungkin sudah cukup membahagiakan bagi mereka jika kami belajar dengan tekun dan tidak nunggak membayar SPP yang waktu itu hanya Rp1.200,- perbulan. Uang saku yang Rp100,- sudah dapat “brambang asem” dan es kucir di warungnya Lik Ndoyo, seorang istri tukang kebun sekolah kami sekaligus ibu kantin semata wayang. Sebuah “kemakmuran” yang masih kami rasakan dan dirasakan rakyat Indonesia pada umumnya karena apa-apa murah.

Setiap kali mengadakan kemah Persami, aku tidak pernah terpilih untuk mewakili sekolah. Yang dipilih hanya anak-anak putri. Mungkin pikirnya guruku waktu itu, kemah  identik dengan memasak nasi sendiri menggunakan “kendhil” yang akan digantung dan dibakar dengan menggunakan kayu. Dan itu adalah pekerjaan perempuan (Ibu memasak di dapur. Ayah membaca koran di teras). Jadi, biarlah perempuan-perempuan saja yang ikut agar mendapat pelajaran bagaimana menanak nasi. Yang laki-laki belajar membaca koran. Setiap kali ada pesta siaga, guruku tidak pernah mempersiapkan aku dan timku dengan matang. Apa yang kami tampilkan hanya spontanitas. Dan sebagaimana hasil yang berbanding lurus dengan usaha, sekolahku tidak pernah mendapat peringkat. Pun juara harapan.

Setiap hari Kamis, kami yanda dan bunda mengenakan seragam pramuka. Kali ini lengkap. Berbeda dengan sewaktu SD. Kami mengenakan seragam pramuka dengan hasduk dan segala badgenya. Di atas saku baju yang sebelah kiri tertempel bordiran nama SD kami.

Hari Kamis sore itu sebelum aku “nyangkul” (sebutan yang diberikan oleh teman-teman kuliah dulu untuk pekerjaan sambilan: ngeles privat), aku mampir di sebuah masjid di Mojosongo, masih berseragam hanya tanpa hasduk dan peci yang biasa aku pakai sewaktu mengajar. Setelah sholat ashar, aku duduk-duduk di teras masjid. Pemuda belasan tahun tersenyum padaku.
“SMA mana, Mas ?” sapanya padaku.
Aku tersenyum simpul. Kupandangi wajahnya. Dan dapat kutangkap bahwa dia adalah pemuda baik nan lugu. Itu menurutku.
“Saya di SD, koq Mas” jawabku
Yang bertanya semakin keheranan begitu mendengar jawaban dariku.
“Saya mengajar di SD” lanjutku tidak tega melihat wajahnya yang semakin gencar memancarkan tanda tanya.
“Ooo… ngajar to. Saya kira masih SMA”. Pemuda itu berlalu menahan malu.

Dan di hati ini, “Apa aku terlalu muda untuk menyandang predikat pak guru? Ataukah pemuda itu hanya terkelabui dengan seragam dan postur tubuhku ?”

 

kemah dan alat sholat

19 April 2008 at 6:09 pm | In Uncategorized | 3 Comments

Aku terbangun pada pagi yang cerah. Ya,… cerah karena aku bangunnya kesiangan. Coba kalau in the early morning. Pasti belum bisa mengatakan apakah pagi ini cerah atau tidak karena cuaca sekarang suka berubah mendadak. Jedug-jedug suara musik yang mengiringi lagu yang dinyanyikan Mulan Jameela merontokkan rasa malasku.

Mendidik anak-anak kelas Ali makin banyak kurasakan hikmahnya. Banyak pelajaran yang bisa aku unduh. Ketika mereka bertengkar, aku harus menjadi hakim yang adil menurut kaca mata mereka. Aku harus benar-benar mendengarkan kesaksian mereka satu persatu. Dengan teliti memilah mana kata-kata yang merupakan pembelaan dan mana kata-kata yang dibelokkan untuk menutupi kesalahan. Setelah tahu duduk permasalahannya, aku akan kembali bertanya kepada mereka apakah tindakan mereka dapat dikatakan benar atau tidak. Meyakinkan bahwa dia bersalah dan harus minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Siang ketika tinggal beberapa anak saja yang belum pulang, menunggu jemputan. Aku mengoreksi pekerjaan Bahasa Indonesia mereka. Minggu yang lalu ku berikan PR untuk merencanakan kemah. Mereka harus menulis tanggal, jam, tempat dan peserta yang mengikuti kemah. Di bawahnya ada kolom keperluan/barang apa saja yang harus mereka bawa. Sebagian besar mereka menuliskan: tenda, peralatan mandi, peralatan memasak, makanan, bantal, dan guling. Mereka menuliskan keperluan-keperluan itu dengan urutan yang berbeda. Natilla berbeda dengan sebagian mereka. Dia menempatkan: peralatan sholat di urutan pertama.Baru perlengkapan mandi, makan dan yang lainnya. Aku tersenyum bangga dengan anak ini. Tidak peduli apakah jawabannya itu hasil dari bantuan orang tuanya atau merupakan jawaban inisiatifnya sendiri. Bahkan, jika orang tua yang membantunya mengisi, satu lagi pelajaran yang aku petik: kalau anak akan kemah, peralatan yang harus dicatat di urutan pertama dan tidak boleh mereka lupakan untuk dibawa adalah peralatan sholat.

berubah

5 April 2008 at 9:55 am | In Uncategorized | 2 Comments

Semua Kebanyakan perubahan yang terjadi memaksa kita untuk beradaptasi lagi. Mulai dari nol-kalau perubahan itu begitu berubah.

  1. Sewaktu Microsoft melancarkan sweeping kepada pengguna produk Microsoft bajakan, masyarakat pada “ngungsi” menggunakan yang opensource. Kalangan pengusaha warnet bingung. Kalau ikut²an ngungsi, “omset” mereka akan berkurang. Bagaimana tidak, pada waktu itu-mungkin juga sampai sekarang- masyarakat masih “alergi” dengan “penguin.” Mereka memutuskan tetap menggunakan “jendela”. Biar aman, warnet ditutup ketika ada isu sweeping (Duh, jadi inget lika-liku penunggu warnet.)
  2. Mama-mama di sekolah yang dulu pakai jilbab dan sekarang melepasnya membuat “pangling”. Harus “berkenalan” lagi. (Kalau boleh bilang, mama lebih cantik lho kalo pakai jilbab. :) )
  3. Konversi minyak tanah ke gas. Masyarakat juga bingung. Ada yang trauma dengan pengalaman tetangga yang harus menginap di rumah sakit karena tabung gasnya meledak, ada juga yang tidak berani membayar gas-yang walaupun dihitung-hitung lebih hemat uang dibanding menggunakan minyak tanah.
  4. Performance wordpress ini. Mendapatinya berbeda seperti biasanya, membuat sedikit canggung ketika mau posing maupun editing.

 

turun gunung

5 April 2008 at 9:02 am | In Uncategorized | 2 Comments

turun gunung

Setelah satu minggu turun gunung karena mengurusi tetek bengek tentang rapotan, kini kembali lagi ke pertapaan. pengen posting lagi tulisan yang dulu.

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.