layar tancap

25 Mei 2008 at 6:59 pm | In Uncategorized | 2 Comments

SD kami terletak paling strategis diantara SD yang lain dalam satu kelurahan. Paling dekat dengan lapangan. Setiap kali pelajaran PD (sebutan untuk pelajaran praktek olahraga waktu itu) yang biasa dilakukan di lapangan, tidak perlu berjalan kaki terlalu jauh. Tidak seperti yang harus dilakukan rival-rival kami di dua SD lain. Kelurahan kami mempunyai tiga SD. Prestasi akademik SD kami yang pas-pasan adalah yang terbaik bila dibandingkan dua SD yang lain. Tetapi, untuk urusan prestasi olahraga, SD kami paling payah. Tidak pernah menang jika mengadakan pertandingan sepak bola dengan SD lain. Kekalahan-kekalahan itu membuat mental kami down dan menolak setiap kali tantangan datang. Karena itulah dua SD lain mengecap SD kami dengan sebutan SD penakut. Takut kalah sebelum bertanding karena kami tahu kami PASTI akan kalah.

Pintu SD kami menghadap lapangan, sehingga jika pulang sekolah kami langsung tahu hajatan-hajatan apa yang akan digelar di tanah lapang yang berlobang besar-besar di sana-sini itu. Hajatan yang paling sering adalah tontonan layar tancap.

Film-film yang diputar adalah film-film kolosal made in negeri sendiri: Tuturtinular dengan berbagai seri. Dari sebuah mobil, sinar yang memancar itu ditangkap sebuah layar yang membentang luas, pinggirnya terikat dengan tiang-tiang yang menancap di tanah, dan menghasilkan gambar bergerak. Suaranya akan lantang dan terdengar sampai radius 1 km.

Di tempat itu juga ada sekawanan orang membentuk lingkaran. Memangku gelaran tikar kecil bermotif bulatan-bulatan kecil yang dibatasi garis-garis yang membentuk kotak. Secara periodik akan ada dua dadu yang menggelinding di atas tikar kecil itu. Sebuah judi yang kami sebut: oklok. Nama ini diambil dari suara dadu yang membentur dinding kulit kelapa ketika dadu-dadu itu dikocok.

Tadi malam dalam perjalanan pulang dari Solo, aku melewati lapangan di depan SD kami dulu. Hajatan yang berpuluh-puluh tahun lalu diselenggarakan dan diminati warga sekitar, layar tancap, digelar kembali. Tetapi kali ini berbeda. Lebih nge-taste. Lebih mengglobal. Mungkin mengikuti arus globalisasi. Film yang diputar bukanlah film Indonesia tetapi film barat. Seperti film-film yang diputar di bioskop TransTV. Tuturtinular tidak lagi diputar. Mungkin filmnya sudah usang dan tidak layak diputar lagi. Mungkin juga si penyelenggara hajatan tahu bahwa kini masyarakat lebih suka nonton film dengan text bilingual dari pada film dalam negeri. Masyarakat mencintai sekaligus membenci negerinya sendiri. Mencintai sebagai tanah airnya, membenci karena tahu bahwa sekarang pemerintah, yang katanya demokratis, tidak lagi memihak mereka.

field trip dan semangat mereka

24 Mei 2008 at 10:05 am | In Uncategorized | 3 Comments

Hatiku cerah secerah langit pagi itu. Hamparan yang mahaluas nampak halus. Biru. Payung bumi itu kian nampak indah dihiasi gumpalan awan tipis seperti kapas putih bersih. Dan di sana, di bawah langit biru itu anak-anak berhambur di halaman. Menggerombol menurut kelas mereka. Membentuk barisan yang masih seperti ular naga. Meliak-liuk ke kanan dan ke kiri. Yanda Roz menyiapkan barisan menggunakan microphone. Suaranya diubah menjadi listrik dan dikembalikan dalam bentuk suara dengan volume yang lebih besar oleh tape buatan anak negeri: Tens. Kini barisan nampak rapi. Lurus. Riuh rendah pun menguap dan diterbangkan oleh kesadaran dan keinginan untuk memperhatikan Yanda Roz, sang pemimpin.

Bunda dan yanda wali kelas membagi snack yang bangunnya kesiangan: datang terlambat. Snack yang dikemas dalam kantung plastik elegan itu dibagikan kepada anak-anak. Yanda Roz yang di depan menanyakan siapa-siapa yang mabuk kendaraan. Banyak sekali yang menunjukkan jari. Ada yang benar-benar mabuk kendaraan, ada juga yang hanya ingin merasakan obat antimo cair rasa jeruk itu. Bukti kemajuan jaman: obat tidak lagi pahit sehingga tidak sakit pun rela minum obat. Yanda-bunda membagikan obat cair pencegah mabuk kendaraan itu kepada mereka-mereka yang mengaku mabuk kendaraan.

Di depan kini bertambah satu yanda lagi. Berkemeja biru dan berdasi. Wajahnya kian nampak berwibawa karena kumis tebal yang melekat diatas bibirnya. Peci hitam yang dia kenakan memberikan kesan kearifan. Dia adalah orang nomor satu di SD kami. Yanda Ron. Orang nomor satu untuk kategori jabatan: kepala sekolah. Orang nomor satu untuk kategori usia: paling tua dewasa. Orang nomor satu untuk kategori kewibawaan: berkumis. Dan wibawanya itu telah sanggup menghilangkan nyali anak-anak untuk tidak serius.

Yanda Ron menyuruh anak-anak untuk mengangkat tangan. Maka tidak ada yang tidak mengangkat tangan. Dia memimpin doa.

Hati ini terasa ringan. Yakin bahwa kegiatan yang mana aku sebagai ketupat (ketua panitia), akan berjalan lancar. Yanda-bunda yang handal ada di belakangku. Dan mereka bisa diandalkan.

Museum Dirgantara Mandala. Sebuah patung garuda mencengkeram pita yang aku lupa bertuliskan apa, dan empat buah patung yang salah satunya adalah patung Adi Sucipto: penerbang pertama dan termuda pada jaman penjajahan, seakan menyambut kedatangan kami. Gaya patung-patung itu mengisyaratkan bahwa mereka adalah patung orang-orang yang telah tertempa jiwa kedisiplinannya di dunia militer.
Di dalam museum terdapat baju penerbang yang sudah usang warisan para penerbang yang sulit ku hapalkan namanya dan benda-benda berbau antariksa lainnya.

Anak-anak yang telah mendaftarkan diri untuk berfoto memakai baju pilot dan berdiri di depan pesawat, diambil gambarnya oleh mas-mas. Mas itu, jika usahanya diibaratkan keluarga, sebatang kara. Tidak ada asisten yang membantu. Akhirnya, yanda-bunda wali kelas harus berberat hati menjadi asisten “pocokan” dengan upah lelah. Mengganti baju hampir seratus anak. Dan Mas Sebatang Kara itu hanya jeprat-jepret saja.

Dalam perjalanan pulang, di dalam bis, anak-anak terhibur dengan lagu-lagu kakak-kakak mereka: The Rock-Munajat Cinta, Ungu-Akulah Para Pencarimu, Matta-Ketahuan, T2-Pacar Cadangan. Lagu-lagu itu tidak hanya masuk dalam list lagu favorit kakak-kakak mereka, tetapi nampaknya masuk juga dalam lagu wajib mereka. Pasalnya, mereka hapal dan turut bernyanyi, menjadi backing vocal dengan suara satu, suara dua, suara tiga. Ada juga yang bernyanyi dengan memberikan “ornamen-ornamen” nada yang ngalor-ngidul sehingga terkesan bahwa lagu itu adalah lagu ciptaan mereka sendiri.

“Kami sudah sampai Klaten. Alhamdulillah lancar, Yanda”. Pesan singkat itu melayang dengan tujuan: hp Yanda Ron. Alhamdulillah, lancar.

kasih sayang dan sungai

11 Mei 2008 at 5:47 pm | In Uncategorized | 4 Comments

Angin kemarau menabraki jaket yang kukenakan sehingga menimbulkan suara: begh…begh…begh… Hari telah menghalau sinar mentari sehingga alam nampak gelap. Kendaraan mulai menyalakan lampu begitu juga rumah-rumah di pinggir jalan ini.

Perjalanan pulang dari desa Imogiri, Bantul. Sebuah desa yang tenar dengan gurahnya. Dulu sempat ingin gurah. Biar napas ini lebih plong dan suara lebih lantang. Tapi mendengar efek samping dari gurah: pusing, badan seperti dipukuli, sakit, nyaliku jadi ciut. Biarlah Noeg dulu yang menjadi kelinci percobaan untuk membuktikan hipotesa yang kudapat dari teman-teman di SD.

Setelah bertanya padanya layaknya seorang wartawan yang mewawancarai seorang narasumber, barulah aku membulatkan tekadku. Suatu hari nanti aku kan kembali lagi ke Bantul. Mengikut jejak Noeg.

Di perjalanan pulang ada sebuah truk berbak warna coklat tua melanggar sepeda motorku. Di pantat truk itu, lebih tepatnya di pintu bak tertulis: kasih sayangnya seperti sungai. Tidak tahu “nya” siapa. Hanya sepenggal kalimat itu saja. Lalu aku berpikir. Kenapa penulis mengumpamakan kasih sayang”nya” dengan sungai ? Pikirku melayang pada sungai kecil di dekat rumah. Jika kemarau datang, sungai itu kering tidak mengalirkan air. Pak tani tidak bisa memberdayakannya dan sungai itu untuk sementara tidak bermanfaat bagi penduduk desaku. Saat itu juga dia, sungai itu, akan tampak kotor. Rumpun pohon bambu yang ada di kanan kiri sungai akan menjatuhkan daunnya ke badan sungai. Karena tidak ada air, maka daun-daun kering itu mengonggok di sana-sini. Kelakuan warga juga akan memperparah tampang sungai itu di musim kemarau. Mereka nekad membuang sampah ke sungai. Dan, tidak akan ada air yang akan mengantarkan sampah-sampah itu ke hilir sungai dan akhirnya sampai di laut. Sampah ngetem di situ menunggu air yang akan dia tumpangi. Maklum, warga tidak punya TPA.

Desember tahun lalu sungai Bengawan Solo mengamuk. Di musim penghujan itu dia menghanyutkan ratusan mungkin ribuan rumah penduduk, ratusan hektare sawah, dan menjadi trauma tersendiri bagi korbannya.

Kembali ke: kasih sayangnya seperti sungai. Kalau seperti sungai, berarti kasih sayang”nya” akan tampak kotor karena digunakan untuk ngetem para sampah di musim kemarau dan tidak bermanfaat. Bila musim penghujan tiba, kasih sayang”nya” sewaktu-waktu bisa mengamuk. Merugikan. Kasih sayang”nya” bisa kering, bisa juga banjir. Kalau kering tidak bermanfaat, kalau banjir mendatangkan kerugian.

Sampai sekarang aku belum maksud dengan tulisan itu.

ekpeyet

9 Mei 2008 at 4:29 pm | In Uncategorized | 1 Comment

Aku sebut saja dia Lida. Sebutan itu kupenggalkan dari sederetan nama panjangnya. Postur tubuhnya semakin nampak mungil karena “mahkotanya” yang ditutupi jilbab. Tetapi, dibalik mungil tubuhnya tersimpan sebuah semangat kompetisi yang tinggi, potensi untuk mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab. Dia begitu ingin mengetahui siapa yang menduduki peringkat teratas di kelas, siapa yang peringkatnya ada di atas dia, yang ada di bawahnya. Jika menerima pesan dari mamanya, pagi-pagi begitu dia masuk kelas, dia langsung menyampaikannya kepadaku. Tidak menunda sampai nanti. Takut lupa, mungkin.

Mamanya, dia adalah “mama atensi”. Ku sebut demikian karena setiap kali berkomunikasi denganku melalui sms, dia selalu membalas: terima kasih atensinya.

Jam 09.55. Anak-anak ku suruh cuci tangan untuk persiapan makan pagi. Setelah berkumpul lagi di kelas dan berdoa, mereka menyantap hidangan cateringnya.

Lida mendekati mejaku dan bertanya, “Yanda, ekpeyetnya boleh dimakan tidak ?” katanya sambil menunjuk dasaran tempat cateringnya yang bulat berwarna merah.

Mendengar pertanyaannya aku malah bertanya-tanya. Ekpeyet itu apa ? Apakah itu semacam landasan tempat catering ? Atau sesuatu yang digunakan untuk melapisi makanan ? Terbuat dari kardus ?
“Ekpeyet itu apa ?”
“Itu lho, Yanda yang biasanya ada di makanan itu lho”, jelasnya padaku.
Aku masih belum paham maksudnya. Lalu dia mengambil snacknya dan menunjukkan padaku. Telunjukknya menunjuk tanggal kadaluarsa.
“Ooo,… expired to…” barulah aku paham. Expired dia ucapkan ekpeyet. Yah, seperti mengucapkan tempe penyet.

Lain lagi beberapa hari yang lalu. Pagi itu dia membawa pesan dari mamanya, “mama atensi”. Sebuah pesan berisi pertanyaan.
“Yanda, kalau mau membayar isi ulang bisa titip Yanda ?”

“Isi ulang ?” Isi ulang air mineral itu ? Aku kan tidak buka usaha depot isi ulang air minum!
“Iya, yanda kalau mau naik kelas tiga khan harus isi ulang”, jelasnya.
“Ooo… daftar ulang maksudnya ?!”

Ini anak, expired dibaca ekpeyet, daftar ulang dikatakannya isi ulang…

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.