oleh-oleh dari jakarta(2)
15 Juli 2008 at 12:20 pm | In Uncategorized | 3 CommentsSession III
Dia adalah kepala SD tempat pelatihan ini diselenggarakan. Di awal session dia mengatakan yang seharusnya tidak dia katakan sebagai seorang pembicara: saya juga tidak begitu menguasai masalah ini, begitu katanya. Semangat kami drop, bahkan mencapai minus. Tubuhnya ramping, jangkung dan wajahnya yang kecil seakan penuh oleh kumisnya yang tebal. Dia berbicara mengenai bagaimana mengembangkan silabus pembelajaran. Bagaimana caranya menentukan indikator serta mengembangkannya ke dalam metode pembelajaran, alokasi waktu dan sumber belajar. Di tengah session ini, dari belakang kami datang seorang wanita yang usianya tidak bisa dibilang muda. TUbuhnya kecil. Pakaiannya blus warna hitam dengan motif bunga kecil-kecil. Dia mengenakan jilbab yang hanya menutupi setengah bagian rambutnya. Seperti jilbab yang dipakai ibu-ibu yang hanya memakainya ketika jagong atau takziyah. Panitia yang ada di depan menyambut menyalaminya dengan sedikit menunduk. Agaknya dia adalah orang penting di SD ini.
Session IV
Kami berharap menemukan sesuatu yang lain yang tidak membuat kami mengantuk di session ini. Di session III tadi sudah terdengar orang menggergaji, begitu Yanda Dan menyebutnya. Ya! Menggergaji yang suaranya sgsrook…sgsrook… Ya ampun, bisa-bisanya dia ngorok di tengah session. Berulangkali aku harus mengerahkan tenaga untuk menahan tawa ketika mendengar “suara misteri” itu. He did it twice. Ini sudah kali yang kedua! Dia sudah pernah melakukannya di session-session awal tadi. Wanita yang disambut hangat oleh beberapa orang tadi tampil di depan. MC memperkenalkan beliau kepada kami. Beliau adalah guru besar di Kemang. Beliau membawa isu tentang psikologi anak. Masalah-masalah apa saja yang sering dihadapi anak-anak, dan bagaimana menanganinya, dia jelaskan kepada kami. Beliau berbicara dengan volume yang kecil. Kontur suaranya mulus, sehingga bagi orang yang tidak kuat bisa terlelap dibuatnya. Di tengah dia bicara, eh ada britney nyanyi: ops he did it again! Peserta yang sudah ngorok twice kini ngorok lagi. Yanda Fit, English teacher di Solo, bilang he is being honest.
Sebagian besar dari kami, kecuali yang “did it again” tadi, memperhatikan sang profesor dengan seksama. Kami mencondongkan kepala, memincingkan mata dan mencoba terus berkonsentrasi demi mendengar topik yang menarik yang dibawakan oleh ibu yang suaranya sayup-sayup itu. Di akhir session, banyak sekali pertanyaan untuk sang profesor. Kami konsultasi mengenai permasalahan-permasalahan yang pernah kami alami ketika memegang anak. Di luar volume suaranya, session ini adalah session yang menarik bagi kami karena kami langsung tahu manfaatnya.
Session V
to be continued
oleh-oleh dari jakarta
4 Juli 2008 at 6:52 pm | In Uncategorized | 1 CommentTurun di perempatan Mampang. Angin pagi itu begitu menusuk. Beberapa tukang ojek menyerbu. Masih berjaket dan pelindung kepala. Mereka menawarkan jasa. Rombongan kami tak acuh dengan mereka. Nasib mereka lain dengan nasib pengemudi taksi. Bapak-bapak yang kemudian mengaku berasal dari Sragen, kota sebelah utara Solo, mendapat perhatian kami. Setelah tawar menawar, naiklah kami bertujuh ke dalam mobil warna biru itu. Sebelum melaju, peristiwa yang dulu ku alami lagi. Seorang yang diluar meminta uang parkir. Kasih dah! Anggap saja sebagai pajak jiwa yang baru saja menginjakkan kaki di Jakarta.
Di dalam taksi kami bertujuh, delapan dengan pak sopir. Kami duduk memangku satu teman lain. Berdesakan. Saat itu, sangat tipis perbedaan antara orang yang ingin ngirit dengan orang pelit!
Session I
Orang-orang yang duduk di depan sana wajahnya tidak asing lagi bagi kami. Sudah berulangkali bertemu di Solo ketika sekolah kami sedang disupervisi. Mereka adalah supervisor yang datang ke sekolah kami. Ada Bu Un, Bu Ri dan Pak Rid. Acara pelatihan dibuka oleh mereka dan dilanjutkan dengan acara session I : Al Azharisasi. Pada session perdana ini pembicara mengetengahkan macam-macam guru. semuanya berakhiran “ar”. Ini dia,….
1. Guru bayar : guru yang mengajar hanya kalau dibayar. Bayaran menjadi tujuan awal sekaligus yang akhir.
2. Guru nyasar : guru yang sebenarnya tidak ingin jadi guru. Profesinya hanya dijadikan pekerjaan sapuluh minus satu, sambilan.
3. Guru benar : orang yang benar-benar ingin jadi guru. Mengabdikan hidup dan waktunya untuk menjadi patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Yang namanya akan selalu hidup dalam sanubari murid-muridnya. Sebagai pelita dalam kegelapan. Laksana embun penyejuk dalam kehausan. Oh, muliamu guru…
Pada session ini disebut-sebut nama Buya Hamka yang membangun masjid Al Azhar, dan Bapak Maulwi Saelan sebagai pendiri Al Azhar yang ada di Kemang. Dijelaskan pula bahwa Al Azhar (dengan huruf hijaiyah: zai) berarti bunga, dan Al Azhar (dengan huruf dzha) berarti jelas/tegas. Dan nama SD kami menggunakan huruf hijaiyah yang disebutkan terakhir.
Visi misi, spiritualisasi, dan platform, mengisi waktu-waktu selanjutnya.
Session II
Sebagian peserta mengucek mata. Berusaha meremukkan beban yang menggelayuti kelopak mata mereka pada akhir session I tadi. Dan berhasil! Seorang Bapak yang penuh wibawa (berkumis), berkemeja putih motif garis-garis vertikal lengkap dengan dasinya, berperut buncit, duduk di belakang meja presentasi. Untuk menarik perhatian audience, dia berdiri.
Dia adalah orang yang entah dengan ilmunya ataukah sudah dari sononya, mempunyai kharisma yang membuat kami kembali lagi bersemangat. Wes…ewes…ewes… bablas ngantuke. Pria bernama Pak Ed itu ternyata adalah PH di salah satu SD filial di Jakarta. Hal-hal mengenai kemerdekaan kekurikuluman menjadi isu yang dia bawa untuk ditatarkan kepada kami. Dia mengajari bagaimana menghitung ketuntasan belajar, ketuntasan target kurikulum, etc. Walaupun 40% apa yang dia jelaskan sudah kami dapatkan sekaligus praktekkan di Solo, tapi kemampuannya berbicara membuat kami tetap ingin mendengarkan dan mendengarkan.
Session III
to be continued…
guru dan pengamat
3 Juli 2008 at 12:02 pm | In Uncategorized | 2 CommentsProfesi sebagai seorang guru bukan hanya menuntut untuk mengajar dan mendidik anak-anak tetapi juga harus menjadi pengamat. Pengamat politik, pengamat olahraga sampai pengamat program acara yang ditayangkan di layar kaca.
Beribu-ribu sinetron berduyun-duyun mengisi jam demi jam, channel demi channel. Coba tebak, berapa sinetron saat ini yang diputar oleh stasiun TV swasta Indonesia? Berapa pula yang sifatnya benar-benar mendidik? Itu baru sinetron. Belum tayangan film kartun. “Kartun”, namanya khas dengan dunia anak-anak. Namun tidak semua kartun yang diputar di GlobalTV dkk layak dikonsumsi anak-anak. Sponge Bob Square pants, misalnya. Film ini akan nampak lucu jika penontonnya mempunyai IQ yang sanggup menangkap lelucon yang ada, yang tidak dipunyai anak-anak. Entong? tidak jauh berbeda. Walaupun sinetron ini banyak dibintangi anak-anak, namun lebih banyak tidak mendidik daripada menyajikan sebuah tayangan yang sekedar menghibur.
Belum lagi laga penyanyi dangdut di TPI yang diproduseri seorang tuan bernama Takur. Gak penting banget!
Lihat acara Stardut beberapa hari yang lalu ? Acara ini dibuka oleh penampilan si TRIO biang p****grafi: Trio Macan. Tiga dara yang lekuk tubuhnya terbetot pakaiannya sendiri itu, seperti biasa, menyuguhkan tarian yang aduhai. Mereka nungging dengan membentuk formasi segitiga, lalu tahu khan?! Ya, benar! Mereka memutar-mutar kepala mereka sehingga mahkota wanitanya yang tergerai turut berputar-putar bak baling-baling. Buah dadanya nampak mau tumpah ketika mereka melakukannya. Tak tahu lah apa maksudnya. Mereka menggunakan tarian-tarian panas yang didukung pakaian yang panas sebagai umpan untuk memancing birahi lelaki biar kian memanas. Memicu adrenalin, memerahkan wajah, sampai-sampai mencopotkan bola mata. Mungkin hanya ini yang bisa mereka banggakan, tidak ada yang lain. Yah, jaman sekarang banyak wanita yang kian bangga jika aurat, harta berharga mereka, laris manis ditonton orang.
Tragis, jika DPR sempat menjadikan goyangan Inul sebagai agenda rapat mereka dan berakhir dengan insyafnya wanita asal Surabaya yang semasa kecilnya pandai bermain holahop itu, kenapa tidak dengan Trio yang personelnya berasal dari Jombang dan Lamongan itu ? Apakah guru-guru seperti aku harus demo untuk menyelamatkan akhlak bangsa ? APA KATA DUNIA ?!
Tugas tambahan bagi orang tua: mendampingi anak-anak mereka ketika sekedar ingin menikmati hiburan yang murah, menonton TV.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.



