pakai hitam? TAKUT!
2 Oktober 2008 at 5:08 pm | In Uncategorized | 7 CommentsPara investor asing maupun dalam negeri agaknya melihat peluang usaha di tengah pola hidup konsumtif Wong Solo. Akhir-akhir ini banyak sekali bermunculan pusat-pusat perbelanjaan yang tidak hanya menawarkan kelengkapan namun juga kepuasan. Pusat perbelanjaan mengalami divergensi fungsi. Tidak hanya sebagai tempat pembeli menemukan barang kebutuhan mereka namun juga sebagai tempat rekreasi. Cuci mata dengan label-label harga, dengan tulisan DISKON yang tercetak besar dan mengundang perhatian, bahkan cuci mata dengan para pembeli yang bangga memakai tangtop. Bener gak sieh tulisan “tangtop” ? Kalo bener, mau-maunya kaum hawa itu memakainya. Ketika buka kamus, “tang” itu khan “bau”, sedangkan “top” itu “puncak”. Jadi, bau yang memuncak. Atau, bau yang asalnya dari tubuh bagian puncak alias ketek. WOW. Benarlah kiranya, soalnya khan ketek-ketek mereka tidak terlapisi kain selembar pun. Begitu diterpa angin,…wuuuuzzz… aroma khas ketek langsung melayang-layang. Embeeekkk…
Di tengah munculnya pusat perbelanjaan yang megah, mewah, dan high class di sudut kota Solo ada pusat perbelanjaan jeans yang bertahan sejak aku kecil dulu. Yang dijual bukan hanya jeans. Dari kemeja, kaos, underwear, sampai sandal dan sepatu. Namanya Rominsy. Dia tidak megah, tidak mewah. Untuk mereka kalangan menengah ke bawah. Mungkin toko ini ada sebelum aku lahir. Yang jelas, aku mengetahui keberadaan toko ini sewaktu masih menempuh pendidikan dasar. Tempatnya seperti swalayan. Tapi tidak mewah seperti swalayan di tempat-tempat lain. Di sana orang tidak bisa cuci mata. Kepentingan mereka hanya satu: belanja. Mereka bebas memilih karena ada ratusan jeans tergerai dan ribuan kaos dan kemeja yang digantung di hanger. Di sana tidak akan ada tulisan “DISKON” karena semua harga yang ada sudah miring dibandingkan harga di tempat lain. Pasti selisih antara Rp10.000,00 sampai Rp20.000,00.
Gudang toko ini ada di lantai dua. Manajemen meletakkan stok barang di sana. Jika pembeli minta jeans yang ukurannya tidak ada di etalase, maka mbak-mbak pramuniaga akan berkomunikasi via interkom dengan seseorang yang ada di gudang. Pembicaraan mereka singkat. Hanya menyebutkan merek jeans, warna dan ukuran yang diminta. Maka, sebentar lagi akan terdengar suara gaduh troli kecil yang meluncur dari gudang lantai dua. Lintasan troli itu terbuat dari triplek. Jika yang di bawah sudah mengambil barang yang dipesan, troli akan ditarik lagi ke atas.
Mbak dan mas yang melayani kami berkaos hitam, bercelana jeans. Mereka semua masih belia, kecuali yang di belakang meja kasir. Dia tampak lebih berumur dari yang lain. Pramuniaga itu akan duduk di kursi berkaki tinggi, tanpa sandaran, menunggu pembeli yang minta dilayani. Berulangkali aku kesana dan mencoba mencari diantara mereka yang “menyala”. Tidak ada. Semua nampak sederhana sesederhana toko tempat mereka bekerja.
H minus 6. Toko itu dipadati pengunjung. Parkir membludag. Pihak manajemen juga menambah luas swalayan. Koleksi sandal, sepatu, baju, jeans, semuanya bertambah lengkap. Tempat penitipan barang yang biasanya ada di dalam swalayan kini sedikit tergusur keluar: Tempat Penitipan Barang Rp 300,00 selama puasa. Biasanya gratis, sekarang bayar.
Dekat pintu masuk dipasang ratusan sepatu dan sandal dari yang bermerek sampai yang mereknya GS abal-abal. Sebentar saja melihat-lihat. Lalu aku pergi ke ujung swalayan tempat beberapa baju koko tergantung di hanger. Beberapa model menarik semenarik harganya. Tapi sayang, ukuran terkecil dari baju koko yang ada masih terlalu besar untuk tubuhku. Diujung ada pemuda belia berkaos hitam, duduk di atas kursi berkaki tinggi tanpa sandaran.
“Mas, ini yang ukurannya M ada tidak?”, tanyaku padanya.
“E… saya bukan, koq Mas”, jawabnya sambil langsung beranjak dari kursi.
“Oo… maaf”
Ternyata dia juga sama-sama pembeli seperti aku. Ku kira dia pramuniaga karena berkaos hitam dan duduk di atas kursi berkaki tinggi tanpa sandaran, persis seperti yang dilakukan karyawan di sini.
menjual uang
1 Oktober 2008 at 8:50 pm | In Uncategorized | 1 CommentSudah nerupakan tradisi umat muslim di Indonesia ketika lebaran membagi-bagikan “fitrah”. Bukan zakat fitrah yang 2,5 kg beras itu, tetapi “fitrah” ini berupa uang. Besarnya terserah. Jika dikonversikan belum tentu sebanding dengan harga beras 2,5 kg. Sifatnya sukarela seperti simpanan koperasi. Seperti angpao di tahun baru imlek. Bedanya, banyak diantara mereka yang tidak memasukkan uang ini ke dalam amplop. Kalaupun di masukkan, amplopnya tidak berwarna merah.
Yang memberikan adalah para nenek-kakek dan para orang tua. Tapi, walaupun belum tua, aku juga ikut memberi “simpanan sukarela” ini kepada keponakan-keponakanku karena sewaktu kecil dulu aku juga sering menerimanya dari orang tua mereka. Sekarang gantian.
H minus 7. Jalan-jalan mulai macet. Di ruas-ruas jalan Slamet Riyadi beberapa orang memarkir sepeda motor. Di atas kendaraan mereka melambaikan beberapa bongkok uang. Beberapa bongkok uang kertas itu mereka pegang persis seperti orang sedang memegang kartu ketika berjudi. Uang mereka susun seperti kipas kertas. Lalu mereka pegang erat-erat. Ada pecahan Rp 20.000,00 sampai pecahan Rp 1.000,00. Semuanya baru. Mereka menjual uang baru. Uang senilai Rp 100.000,00 dalam pecahan Rp 5.000,00 mereka jual Rp 115.000,00. Yang seribuan lebih mahal lagi: Rp 120.000,00.
Orang-orang ini jeli sekali melihat peluang pasar. Masa menjelang lebaran banyak orang yang ingin menukar uang lecek mereka dengan yang baru. Alasannya, bagi anak kecil, uang Rp 5.000,00 lecek mempunyai nilai yang berbeda dengan yang masih kaku, baru.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.



