B3-3B

14 Februari 2009 at 10:03 pm | In Uncategorized | 2 Comments

Upaya pemerintahan orba untuk memberantas B3B (Bebas 3 Buta) patut diacungi jempol. Terlepas dari hasilnya, hal-hal yang melatarbelakangi program tersebut sangatlah bagus. Mungkin, pemerintah pada masa itu sudah berpikir ke depan. Mempunyai rencana jangka panjang. Agar pesta demokrasi rakyat, pemilu, suatu saat nanti, tidak dengan jalan mencoblos melainkan mencontreng. Tuh, khan bisa!

Mencontreng bukanlah hal yang sepele. Walaupun hanya memegang pulpen(atau alat tulis apalah nanti yang akan digunakan dalam pemilu) dan memberi tanda semacam huruf “v” (dengan salah satu lengan lebih panjang dari yang lain), ini adalah suatu hal yang butuh pembiasaan. Jargon “tuh, khan bisa!” yang ada dalam iklan KPU edisi perdana beberapa bulan yang lalu, sulit menjadi kenyataan.

Pemilih yang B3-3B(Benar-Benar Buta-3 Buta) terancam tidak bisa tepat menggunakan hak pilihnya. Kabar mengabarkan bahwa cara pemilihan dengan mencontreng ini disengaja oleh KPU. Tujuannya untuk menyaring pemilih yang B3B. Setidaknya, orang yang bisa baca-tulis dan pernah “makan sekolah” akan lebih mampu berpikir logis dan berpandangan ke depan. Sebaliknya, orang-orang yang B3-3B mudah terhasut dan murah suaranya. Mereka rela memberikan suaranya hanya untuk dua lembar uang sepuluhribuan, atau sekedar mereka tukar suara mereka itu dengan amplop putih kecil yang tidaklah seberapa isinya. Secara tidak langsung mereka telah menggadaikan masa depan bangsa, untuk kepentingan sendiri. Peribahasa Jawa yang tepat untuk hal ini mungkin: mburu uceng kelangan deleg! Keputusan KPU ini, jelas meningkatkan validitas suara.

Dulu pernah ada teman yang tidak bertanggung jawab dan pendek cara pandangnya mengatakan: saya akan memilih yang memberi uang paling banyak. Jelaslah dari kalimat yang dia lontarkan, dari mulut tak berpendidikannya itu, dia tidak melihat orang/partai yang dipilihnya kecuali uang yang akan mereka berikan.

Lalu bagaimana nasib nenek-nenek yang tidak pernah menginjakkan kaki di suatu tempat-yang semasa kecil mereka-mewah bernama: sekolah? Bagaimana pula nasib suara orang-orang pedalaman yang belum pernah berkenalan dengan pulpen? Bisa-bisa, ketika mau mencontreng, mereka memegang pulpen dengan posisi terbalik, ujung pulpen mereka letakkan di atas. Sehingga, walaupun digores-goreskan tidak kunjung keluar tintanya.

Adalah Darmi. Nenek renta, yang penglihatannya tidak lagi sempurna. Harus bertanya: kowe ki sopo ? (kamu tuh siapa?) kepada orang yang menyapanya walaupun jarak keduanya tidak lebih dari satu langkah. Setelah bertanya seperti itu biasanya dia memegang tangan si penyapa. Sambil digoyang-goyangkan. “E…alaaah, anake Yayuk to”, kata-kata itu keluar dari mulut keriputnya sesaat kemudian. Indera penglihatan nenek itu semakin tahun semakin keruh saja. Secara berkala, dia merawat kedua bola matanya dengan mencelupkan ke dalam baskom isi larutan ramuan dia sendiri. Ramuannya sendiri sederhana, rendaman daun beluntas.

Punggungnya membungkuk membentuk sudut 80 derajat. Rambutnya, ah dia tidak punya rambut. Yang dia punya adalah uban.

Kalau sedang sendiri, sering dia membuka-buka album jadul yang dia simpan di almari. Almari yang dia warisi dari orang tuanya. Dan rencananya, almari yang beratnya minta ampun karena kayunya yang tebal dan tua itu, dia wariskan juga kepada anaknya yang dia sayangi dengan amat sangat sekali.

Halaman pertama album itu berisi satu, hanya satu lembar, foto ketika dia masih agak terlihat muda. Ketika rambutnya belum berubah menjadi uban semua. Foto itu dia letakkan di halaman paling depan karena, bak seorang penulis, dia tahu arti sebuah alur cerita. Lembar berikutnya adalah foto anak perempuannya yang mengenakan pakaian ihram. Di bawahnya adalah foto pernikahan cucunya. Dia berdiri di tengah, diapit kedua mempelai. Di foto ini, ubannya tidaklah kentara karena dia tutup dengan kerudung berwarna gelap, oleh-oleh anaknya dari tanah suci.

Lembar-lembar berikutnya adalah kenyataan yang harus dengan legowo dia terima. Dia meletakkan gambar yang diambil hampir dalam setiap pesta pernikahan cucu-cucunya. Jangan sangka dia gembira dengan berfoto di pesta pernikahan itu. Karena dia tahu, jika foto sudah dicetak maka gambar dirinya bak berkata kepadanya: kamu sudah tua! Dan bertambahlah nelangsa dirinya.

Sore, melihat kepulangan cucunya yang dia sayangi dengan amat sangat sekali, dia menyambut dengan gerutu dan keluh kesah.
“E…alaaah, jebule sing neng kolah kae odol? Tiwas tak nggo keramas. Lha ayak, ora munthuk ning rambutku malah gatel kabeh. Laaaah, rak yo mbrodoli no iki sesuk.”
“E…alaaah, ternyata yang di kamar mandi itu pasta gigi? Terlanjur dipakai keramas. Pantesan, tidak berbusa tapi rambutku gatal semua. Laaaah, pasti besok rontok”

Berantas B3B! Biar bisa bedain pasta gigi dengan shampoo!

2 Tanggapan »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. hmm..kadang jadi bertanya-tanya..ini tahun berapa sih ? :D

    yg buta huruf masih ada. yg datang ke praktek nya ponari jumlahnya gak sedikit. yg begitu tergantung dg teknologi (inet) hampir di semua kalangan. dari jaman batu sampe yg amat sangat canggih tumplek plek di sini..

  2. hahahahahaha…kok nulisnya seolah-olah otobiografi yaaaa….neeekk..neneeekkk..tuh cucu dach mau pacaran…nenek ngerti gak yaaa..istilah pacaran ??…hihihihi


Tinggalkan sebuah tanggapan

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.