dewi sri serakah?

5 April 2009 at 8:30 pm | In Uncategorized | 4 Comments

Saat ini di desa kami bukan musim panen. Musim tuai padi itu sudah beberapa minggu yang lalu. Padi yang telah dituai dan dibawa pulang, kini sudah kering terjemur. Ada yang sudah mulai nongkrong di lumbung, di pendopo tengah, dan tempat lain yang biasa kami gunakan untuk menyimpan padi kering. Ada juga yang sudah sampai selepan (tempat penggiligan padi). Mereka semua dikuliti dengan mesin. Berasnya sebagian juga sudah kami tanak dan tecerna secara mekanik maupun kimiawi di dalam tubuh kami.

Foto ini saya ambil secara diam-diam beberapa hari yang lalu. Bakal sesaji untuk Sang Dewi Padi, lagi. Ada kinang (tembakau), bunga melati dan kemiri. Semuanya bersatu dalam wadah yang terbuat dari daun pisang. Wadah itu dibentuk menyerupai kapal. Tidak jauh dari tempat itu, ada beberapa pisang. Dapat dipastikan pisang itu bakal ikut nimbrung dengan “awak kapal” yang lain.

Ini musim tanam. Petani di desa kami tetap saja mempersembahkan sesaji untuk Dewi Sri. Entah para petani yang loyalitasnya kepada Dewi Sri yang tinggi ataukah Dewi itu sendiri yang serakah sehingga bukan hanya minta persembahan sewaktu musim tuai, tetapi juga musim tanam.

kuadrat

19 Maret 2009 at 12:58 pm | In Uncategorized | 3 Comments

Berikut saya sampaikan cara mengkuadratkan bilangan dengan cepat. Untuk sebuah bilangan a, maka a² = a x a.

Misal, 3² = 3 x 3 = 9

12²= 12 x 12 = 144.  (Dikerjakan dengan perkalian susun)

Cara cepat untuk menyelesaikannya adalah dengan cara sebagai berikut.

Misal, 12² = 1² (1×2x2) 2²

= 1           4         4.

25²= 2² (2×5x2)5²

= 6         2        5

keterangan:

5²          = 25, tulis satuaanya(5), simpan puluhannya(2).

2×5x2=20, tambahkan puluhan yang tadi disimpan.

=20+2 = 22 , tulis satuannya(2) simpan puluhannya(2).

2²         =4, tambahkan puluhan yang tadi disimpan.

=4+2=6.

Untuk bilangan yang lain bisa anda coba.

bapak pocung

16 Maret 2009 at 2:24 pm | In Uncategorized | 1 Comment



bapak pocung

Originally uploaded by markotop

Sewaktu kecil, aku menyebutnya Bapak Pocung. Tidak tahu filosofinya.

B3-3B

14 Februari 2009 at 10:03 pm | In Uncategorized | 2 Comments

Upaya pemerintahan orba untuk memberantas B3B (Bebas 3 Buta) patut diacungi jempol. Terlepas dari hasilnya, hal-hal yang melatarbelakangi program tersebut sangatlah bagus. Mungkin, pemerintah pada masa itu sudah berpikir ke depan. Mempunyai rencana jangka panjang. Agar pesta demokrasi rakyat, pemilu, suatu saat nanti, tidak dengan jalan mencoblos melainkan mencontreng. Tuh, khan bisa!

Mencontreng bukanlah hal yang sepele. Walaupun hanya memegang pulpen(atau alat tulis apalah nanti yang akan digunakan dalam pemilu) dan memberi tanda semacam huruf “v” (dengan salah satu lengan lebih panjang dari yang lain), ini adalah suatu hal yang butuh pembiasaan. Jargon “tuh, khan bisa!” yang ada dalam iklan KPU edisi perdana beberapa bulan yang lalu, sulit menjadi kenyataan.

Pemilih yang B3-3B(Benar-Benar Buta-3 Buta) terancam tidak bisa tepat menggunakan hak pilihnya. Kabar mengabarkan bahwa cara pemilihan dengan mencontreng ini disengaja oleh KPU. Tujuannya untuk menyaring pemilih yang B3B. Setidaknya, orang yang bisa baca-tulis dan pernah “makan sekolah” akan lebih mampu berpikir logis dan berpandangan ke depan. Sebaliknya, orang-orang yang B3-3B mudah terhasut dan murah suaranya. Mereka rela memberikan suaranya hanya untuk dua lembar uang sepuluhribuan, atau sekedar mereka tukar suara mereka itu dengan amplop putih kecil yang tidaklah seberapa isinya. Secara tidak langsung mereka telah menggadaikan masa depan bangsa, untuk kepentingan sendiri. Peribahasa Jawa yang tepat untuk hal ini mungkin: mburu uceng kelangan deleg! Keputusan KPU ini, jelas meningkatkan validitas suara.

Dulu pernah ada teman yang tidak bertanggung jawab dan pendek cara pandangnya mengatakan: saya akan memilih yang memberi uang paling banyak. Jelaslah dari kalimat yang dia lontarkan, dari mulut tak berpendidikannya itu, dia tidak melihat orang/partai yang dipilihnya kecuali uang yang akan mereka berikan.

Lalu bagaimana nasib nenek-nenek yang tidak pernah menginjakkan kaki di suatu tempat-yang semasa kecil mereka-mewah bernama: sekolah? Bagaimana pula nasib suara orang-orang pedalaman yang belum pernah berkenalan dengan pulpen? Bisa-bisa, ketika mau mencontreng, mereka memegang pulpen dengan posisi terbalik, ujung pulpen mereka letakkan di atas. Sehingga, walaupun digores-goreskan tidak kunjung keluar tintanya.

Adalah Darmi. Nenek renta, yang penglihatannya tidak lagi sempurna. Harus bertanya: kowe ki sopo ? (kamu tuh siapa?) kepada orang yang menyapanya walaupun jarak keduanya tidak lebih dari satu langkah. Setelah bertanya seperti itu biasanya dia memegang tangan si penyapa. Sambil digoyang-goyangkan. “E…alaaah, anake Yayuk to”, kata-kata itu keluar dari mulut keriputnya sesaat kemudian. Indera penglihatan nenek itu semakin tahun semakin keruh saja. Secara berkala, dia merawat kedua bola matanya dengan mencelupkan ke dalam baskom isi larutan ramuan dia sendiri. Ramuannya sendiri sederhana, rendaman daun beluntas.

Punggungnya membungkuk membentuk sudut 80 derajat. Rambutnya, ah dia tidak punya rambut. Yang dia punya adalah uban.

Kalau sedang sendiri, sering dia membuka-buka album jadul yang dia simpan di almari. Almari yang dia warisi dari orang tuanya. Dan rencananya, almari yang beratnya minta ampun karena kayunya yang tebal dan tua itu, dia wariskan juga kepada anaknya yang dia sayangi dengan amat sangat sekali.

Halaman pertama album itu berisi satu, hanya satu lembar, foto ketika dia masih agak terlihat muda. Ketika rambutnya belum berubah menjadi uban semua. Foto itu dia letakkan di halaman paling depan karena, bak seorang penulis, dia tahu arti sebuah alur cerita. Lembar berikutnya adalah foto anak perempuannya yang mengenakan pakaian ihram. Di bawahnya adalah foto pernikahan cucunya. Dia berdiri di tengah, diapit kedua mempelai. Di foto ini, ubannya tidaklah kentara karena dia tutup dengan kerudung berwarna gelap, oleh-oleh anaknya dari tanah suci.

Lembar-lembar berikutnya adalah kenyataan yang harus dengan legowo dia terima. Dia meletakkan gambar yang diambil hampir dalam setiap pesta pernikahan cucu-cucunya. Jangan sangka dia gembira dengan berfoto di pesta pernikahan itu. Karena dia tahu, jika foto sudah dicetak maka gambar dirinya bak berkata kepadanya: kamu sudah tua! Dan bertambahlah nelangsa dirinya.

Sore, melihat kepulangan cucunya yang dia sayangi dengan amat sangat sekali, dia menyambut dengan gerutu dan keluh kesah.
“E…alaaah, jebule sing neng kolah kae odol? Tiwas tak nggo keramas. Lha ayak, ora munthuk ning rambutku malah gatel kabeh. Laaaah, rak yo mbrodoli no iki sesuk.”
“E…alaaah, ternyata yang di kamar mandi itu pasta gigi? Terlanjur dipakai keramas. Pantesan, tidak berbusa tapi rambutku gatal semua. Laaaah, pasti besok rontok”

Berantas B3B! Biar bisa bedain pasta gigi dengan shampoo!

wanita pemberani

13 Februari 2009 at 7:35 pm | In Uncategorized | 1 Comment

Secara punya kamera digital baru, saya saat ini menjadi orang yang sok fotografer. Objek apa pun yang ga penting menjadi penting untuk dijepret. Hasil jepretan yang ga penting menumpuk di dalam MMC berkapasitas 2GB.

Mendengar kabar bahwa solo terendam banjir pada akhir Januari lalu, saya pun melancong dan jadilah fotografer amatiran. Bener-bener amatiran. Noeg bilang saya kurang pandai memilih angle memotret. Whatever, yang penting saya puas bisa menggunakan kamera digital saya sehingga kamera digital saya terpakai, tidak nganggur, jadi tidak sia-sia membelinya.

Ini beberapa hasil jepretan saya.

wanita pemberani

wanita pemberani

bengawan solo meluap

bengawan solo meluap

... ku melihat ada tenda biru...

... ku melihat ada tenda biru...

tidak pandang bulu

tidak pandang bulu

crocodile, amphibians?

16 Desember 2008 at 8:00 pm | In Uncategorized | Leave a Comment

Setelah membaca ini dan ini, rasa penasaran sedikit terobati.

pakai hitam? TAKUT!

2 Oktober 2008 at 5:08 pm | In Uncategorized | 7 Comments

Para investor asing maupun dalam negeri agaknya melihat peluang usaha di tengah pola hidup konsumtif Wong Solo. Akhir-akhir ini banyak sekali bermunculan pusat-pusat perbelanjaan yang tidak hanya menawarkan kelengkapan namun juga kepuasan. Pusat perbelanjaan mengalami divergensi fungsi. Tidak hanya sebagai tempat pembeli menemukan barang kebutuhan mereka namun juga sebagai tempat rekreasi. Cuci mata dengan label-label harga, dengan tulisan DISKON yang tercetak besar dan mengundang perhatian, bahkan cuci mata dengan para pembeli yang bangga memakai tangtop. Bener gak sieh tulisan “tangtop” ? Kalo bener, mau-maunya kaum hawa itu memakainya. Ketika buka kamus, “tang” itu khan “bau”, sedangkan “top” itu “puncak”. Jadi, bau yang memuncak. Atau, bau yang asalnya dari tubuh bagian puncak alias ketek. WOW. Benarlah kiranya, soalnya khan ketek-ketek mereka tidak terlapisi kain selembar pun. Begitu diterpa angin,…wuuuuzzz… aroma khas ketek langsung melayang-layang. Embeeekkk…

Di tengah munculnya pusat perbelanjaan yang megah, mewah, dan high class di sudut kota Solo ada pusat perbelanjaan jeans yang bertahan sejak aku kecil dulu. Yang dijual bukan hanya jeans. Dari kemeja, kaos, underwear, sampai sandal dan sepatu. Namanya Rominsy. Dia tidak megah, tidak mewah. Untuk mereka kalangan menengah ke bawah. Mungkin toko ini ada sebelum aku lahir. Yang jelas, aku mengetahui keberadaan toko ini sewaktu masih menempuh pendidikan dasar. Tempatnya seperti swalayan. Tapi tidak mewah seperti swalayan di tempat-tempat lain. Di sana orang tidak bisa cuci mata. Kepentingan mereka hanya satu: belanja. Mereka bebas memilih karena ada ratusan jeans tergerai dan ribuan kaos dan kemeja yang digantung di hanger. Di sana tidak akan ada tulisan “DISKON” karena semua harga yang ada sudah miring dibandingkan harga di tempat lain. Pasti selisih antara Rp10.000,00 sampai Rp20.000,00.

Gudang toko ini ada di lantai dua. Manajemen meletakkan stok barang di sana. Jika pembeli minta jeans yang ukurannya tidak ada di etalase, maka mbak-mbak pramuniaga akan berkomunikasi via interkom dengan seseorang yang ada di gudang. Pembicaraan mereka singkat. Hanya menyebutkan merek jeans, warna dan ukuran yang diminta. Maka, sebentar lagi akan terdengar suara gaduh troli kecil yang meluncur dari gudang lantai dua. Lintasan troli itu terbuat dari triplek. Jika yang di bawah sudah mengambil barang yang dipesan, troli akan ditarik lagi ke atas.

Mbak dan mas yang melayani kami berkaos hitam, bercelana jeans. Mereka semua masih belia, kecuali yang di belakang meja kasir. Dia tampak lebih berumur dari yang lain. Pramuniaga itu akan duduk di kursi berkaki tinggi, tanpa sandaran, menunggu pembeli yang minta dilayani. Berulangkali aku kesana dan mencoba mencari diantara mereka yang “menyala”. Tidak ada. Semua nampak sederhana sesederhana toko tempat mereka bekerja.

H minus 6. Toko itu dipadati pengunjung. Parkir membludag. Pihak manajemen juga menambah luas swalayan. Koleksi sandal, sepatu, baju, jeans, semuanya bertambah lengkap. Tempat penitipan barang yang biasanya ada di dalam swalayan kini sedikit tergusur keluar: Tempat Penitipan Barang Rp 300,00 selama puasa. Biasanya gratis, sekarang bayar.

Dekat pintu masuk dipasang ratusan sepatu dan sandal dari yang bermerek sampai yang mereknya GS abal-abal. Sebentar saja melihat-lihat. Lalu aku pergi ke ujung swalayan tempat beberapa baju koko tergantung di hanger. Beberapa model menarik semenarik harganya. Tapi sayang, ukuran terkecil dari baju koko yang ada masih terlalu besar untuk tubuhku. Diujung ada pemuda belia berkaos hitam, duduk di atas kursi berkaki tinggi tanpa sandaran.

“Mas, ini yang ukurannya M ada tidak?”, tanyaku padanya.
“E… saya bukan, koq Mas”, jawabnya sambil langsung beranjak dari kursi.
“Oo… maaf”

Ternyata dia juga sama-sama pembeli seperti aku. Ku kira dia pramuniaga karena berkaos hitam dan duduk di atas kursi berkaki tinggi tanpa sandaran, persis seperti yang dilakukan karyawan di sini.

menjual uang

1 Oktober 2008 at 8:50 pm | In Uncategorized | 1 Comment

Sudah nerupakan tradisi umat muslim di Indonesia ketika lebaran membagi-bagikan “fitrah”. Bukan zakat fitrah yang 2,5 kg beras itu, tetapi “fitrah” ini berupa uang. Besarnya terserah. Jika dikonversikan belum tentu sebanding dengan harga beras 2,5 kg. Sifatnya sukarela seperti simpanan koperasi. Seperti angpao di tahun baru imlek. Bedanya, banyak diantara mereka yang tidak memasukkan uang ini ke dalam amplop. Kalaupun di masukkan, amplopnya tidak berwarna merah.

Yang memberikan adalah para nenek-kakek dan para orang tua. Tapi, walaupun belum tua, aku juga ikut memberi “simpanan sukarela” ini kepada keponakan-keponakanku karena sewaktu kecil dulu aku juga sering menerimanya dari orang tua mereka. Sekarang gantian.
H minus 7. Jalan-jalan mulai macet. Di ruas-ruas jalan Slamet Riyadi beberapa orang memarkir sepeda motor. Di atas kendaraan mereka melambaikan beberapa bongkok uang. Beberapa bongkok uang kertas itu mereka pegang persis seperti orang sedang memegang kartu ketika berjudi. Uang mereka susun seperti kipas kertas. Lalu mereka pegang erat-erat. Ada pecahan Rp 20.000,00 sampai pecahan Rp 1.000,00. Semuanya baru. Mereka menjual uang baru. Uang senilai Rp 100.000,00 dalam pecahan Rp 5.000,00 mereka jual Rp 115.000,00. Yang seribuan lebih mahal lagi: Rp 120.000,00.

Orang-orang ini jeli sekali melihat peluang pasar. Masa menjelang lebaran banyak orang yang ingin menukar uang lecek mereka dengan yang baru. Alasannya, bagi anak kecil, uang Rp 5.000,00 lecek mempunyai nilai yang berbeda dengan yang masih kaku, baru.

korelasi

23 Agustus 2008 at 3:53 pm | In Uncategorized | 3 Comments

Masyarakat Jawa pedalaman (wong ndeso) adalah suatu komunitas yang mayoritasnya ahli dalam hal ilmu korelasi. Mereka pandai dalam hal menghubung-hubungkan anteseden dengan konsekuennya. Eh, lebih tepatnya: mereka pandai mencari anteseden untuk sebuah konsekuen. Hal-hal yang terjadi saat ini mereka runut ke belakang-dengan tanpa dasar ilmiah sedikitpun-dan menarik kesimpulan-tanpa melalui uji hipotesis-lalu mereka konvensikan. Publikasi melalui media mulut sangat mendukung konvensi yang ditetapkan oleh para mbah buyut. Dan yang paling mengesankan bahwa konvensi itu, paradigma-paradigma itu, dengan kuat mengakar sehingga sulit dibasmi, mengalir sampai jauh menyaingi Bengawan Solo.

Dewi Sri
Setiap kali masuk musim panen, para wong ndeso yang bermatapencaharian sebagai petani, membelanjakan sebagian rizki mereka ke jalan Dewi Sri. Keuntungan yang hanya suedikiiiit dari panenan musim yang lalu mereka sisihkan sebagian untuk membeli tetek bengek untuk sesaji Sang Dewi Padi. Mungkin sebagai wujud rasa syukur, mungkin juga sebagai wujud “rayuan” agar Dewi Sri bermurah hati dan memberikan panen yang lebih baik di musim yang akan datang. Bila panenan padi mengecewakan maka mereka melakukan “penelitian” sebab musababnya. Jika secara kebetulan si petani tidak memberi sesaji, maka “temuan” telah ditemukan. Mereka akan membuat kesimpulan jika petani tidak memberi sesaji maka panenan padi mengecewakan. Jika sudah diberi sesaji namun panenan belum juga memuaskan maka mereka akan membuat “temuan baru”: sesajinya kurang banyak atau meletakkannya yang salah. Seharusnya diletakkan di sudut sana bukan sini.

Pernikahan
Masalah pernikahan pun demikian. Adat Jawa mempunyai rule diantaranya: tidak boleh menikah anak sulung ataupun bungsu dengan anak nomor tiga, tidak boleh menjodohkan anak dengan anak yang letak rumahnya lurus ke arah barat dengan rumahnya atau ke arah “ngalor-ngulon” (Barat Laut).
Pernah ada, seorang gadis tetangga yang telah terikat hatinya dengan seorang perjaka tua kaya raya. Rumah si perjaka letaknya pada arah Barat Laut dari rumah si gadis. Karena rule yang dianut maka orang tua si perjaka tidak menyetujui hubungan mereka. Kasihan sekali.

Bulan Ramadhan
Orang Jawa mempunyai cara tersendiri dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Jika orang muslim intelektual menyambutnya dengan memasang berbagai target khattam Quran dan khattam buku-buku religi yang menggugah iman, maka orang Jawa menyambutnya dengan kondangan. Masyarakat akan disibukkan memasak nasi, apem, lentho dan sambal goreng yang akan digunakan untuk kondangan satu hari sebelum bulan puasa tiba. Makanan-makanan itu akan di susun: nasinya dibuat tumpeng seperti piring terbalik, apem goreng yang tercetak bulat atau apem godhog yang dicetak dengan daun nangka, sambal goreng yang diwadahi daun pisang, lentho kecil dan bulat, diletakkan di pinggiran tumpeng. Turut meramaikan penampilan: srundeng yang ditabur di atasnya. Semua makanan tadi ditata di atas “encek” (baca huruf e seperti pada kata “pepes” ikan). Encek terbuat dari bambu yang dianyam membentuk persegi dengan panjang sisi 30 cm. Jika kentungan sudah dibunyikan, maka encek berisi makanan dibawa ke rumah Pak RW. Tidak boleh lupa membawa uang beberapa rupiah yang dinamakan: wajib. Uang ini dikumpulkan dari yang ikut kondangan dan diserahkan untuk Pak Mudin. Mudin bukanlah nama, tapi sebutan untuk orang yang memimpin jalannya kondangan. Di dalam kondangan tersebut Pak Mudin memimpin do’a.
Begitu tradisi mereka. Dan hanya itu untuk menyambut Ramadhan. Kedatangannya mereka sambut dengan kondangan, tetapi setelah tiba mereka tidak berpuasa.

Begitulah Jawa dan wong ndesonya. Kaya budaya. Tapi kalau boleh bilang, budaya yang memperkaya budaya nasional adalah bahasa, tarian. Bukan klenik yang syarat syirik. Terlepas dari itu, aku suka dengan ndeso. Pemandangan masih terhampar luas. Bebas memandang, dan memberi ruang leluasa untuk bernafas.

sebatas mimpi

8 Agustus 2008 at 2:23 pm | In Uncategorized | 4 Comments

gak tau ya,.. hanya pengen posting lagu ini…

SEBATAS MIMPI

pedih bila kuingat lagi
janji yang pernah kita ucapkan dulu
mengapa kini kau ubah semuanya
tak mengerti..tak mengerti aku

biarkanlah cinta tak berbalas
bila memang harus
ku nikmati cinta hanya sebatas mimpi
biar saja kasih indah tak pernah lekat
walau semua kini hanya sebatas mimpi

kasih ingatkah saat-saat mesra
berdua selalu kita dalam cinta
mengapa kini kau ubah semuanya
tak mengerti..tak mengerti aku

tak kusangka semuanya berakhir
hanya karena kau berpaling

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.