oleh-oleh dari jakarta(2)

15 Juli 2008 at 12:20 pm | In Uncategorized | 3 Comments

Session III

Dia adalah kepala SD tempat pelatihan ini diselenggarakan. Di awal session dia mengatakan yang seharusnya tidak dia katakan sebagai seorang pembicara: saya juga tidak begitu menguasai masalah ini, begitu katanya. Semangat kami drop, bahkan mencapai minus. Tubuhnya ramping, jangkung dan wajahnya yang kecil seakan penuh oleh kumisnya yang tebal. Dia berbicara mengenai bagaimana mengembangkan silabus pembelajaran. Bagaimana caranya menentukan indikator serta mengembangkannya ke dalam metode pembelajaran, alokasi waktu dan sumber belajar. Di tengah session ini, dari belakang kami datang seorang wanita yang usianya tidak bisa dibilang muda. TUbuhnya kecil. Pakaiannya blus warna hitam dengan motif bunga kecil-kecil. Dia mengenakan jilbab yang hanya menutupi setengah bagian rambutnya. Seperti jilbab yang dipakai ibu-ibu yang hanya memakainya ketika jagong atau takziyah. Panitia yang ada di depan menyambut menyalaminya dengan sedikit menunduk. Agaknya dia adalah orang penting di SD ini.

Session IV

Kami berharap menemukan sesuatu yang lain yang tidak membuat kami mengantuk di session ini. Di session III tadi sudah terdengar orang menggergaji, begitu Yanda Dan menyebutnya. Ya! Menggergaji yang suaranya sgsrook…sgsrook… Ya ampun, bisa-bisanya dia ngorok di tengah session. Berulangkali aku harus mengerahkan tenaga untuk menahan tawa ketika mendengar “suara misteri” itu. He did it twice. Ini sudah kali yang kedua! Dia sudah pernah melakukannya di session-session awal tadi. Wanita yang disambut hangat oleh beberapa orang tadi tampil di depan. MC memperkenalkan beliau kepada kami. Beliau adalah guru besar di Kemang. Beliau membawa isu tentang psikologi anak. Masalah-masalah apa saja yang sering dihadapi anak-anak, dan bagaimana menanganinya, dia jelaskan kepada kami. Beliau berbicara dengan volume yang kecil. Kontur suaranya mulus, sehingga bagi orang yang tidak kuat bisa terlelap dibuatnya. Di tengah dia bicara, eh ada britney nyanyi: ops he did it again! Peserta yang sudah ngorok twice kini ngorok lagi. Yanda Fit, English teacher di Solo, bilang he is being honest.

Sebagian besar dari kami, kecuali yang “did it again” tadi, memperhatikan sang profesor dengan seksama. Kami mencondongkan kepala, memincingkan mata dan mencoba terus berkonsentrasi demi mendengar topik yang menarik yang dibawakan oleh ibu yang suaranya sayup-sayup itu. Di akhir session, banyak sekali pertanyaan untuk sang profesor. Kami konsultasi mengenai permasalahan-permasalahan yang pernah kami alami ketika memegang anak. Di luar volume suaranya, session ini adalah session yang menarik bagi kami karena kami langsung tahu manfaatnya.

Session V

to be continued

oleh-oleh dari jakarta

4 Juli 2008 at 6:52 pm | In Uncategorized | 1 Comment

Turun di perempatan Mampang. Angin pagi itu begitu menusuk. Beberapa tukang ojek menyerbu. Masih berjaket dan pelindung kepala. Mereka menawarkan jasa. Rombongan kami tak acuh dengan mereka. Nasib mereka lain dengan nasib pengemudi taksi. Bapak-bapak yang kemudian mengaku berasal dari Sragen, kota sebelah utara Solo, mendapat perhatian kami. Setelah tawar menawar, naiklah kami bertujuh ke dalam mobil warna biru itu. Sebelum melaju, peristiwa yang dulu ku alami lagi. Seorang yang diluar meminta uang parkir. Kasih dah! Anggap saja sebagai pajak jiwa yang baru saja menginjakkan kaki di Jakarta.

Di dalam taksi kami bertujuh, delapan dengan pak sopir. Kami duduk memangku satu teman lain. Berdesakan. Saat itu, sangat tipis perbedaan antara orang yang ingin ngirit dengan orang pelit!

Session I
Orang-orang yang duduk di depan sana wajahnya tidak asing lagi bagi kami. Sudah berulangkali bertemu di Solo ketika sekolah kami sedang disupervisi. Mereka adalah supervisor yang datang ke sekolah kami. Ada Bu Un, Bu Ri dan Pak Rid. Acara pelatihan dibuka oleh mereka dan dilanjutkan dengan acara session I : Al Azharisasi. Pada session perdana ini pembicara mengetengahkan macam-macam guru. semuanya berakhiran “ar”. Ini dia,….
1.  Guru bayar : guru yang mengajar hanya kalau dibayar. Bayaran menjadi tujuan awal sekaligus yang akhir.
2.  Guru nyasar : guru yang sebenarnya tidak ingin jadi guru. Profesinya hanya dijadikan pekerjaan sapuluh minus satu, sambilan.
3.  Guru benar : orang yang benar-benar ingin jadi guru. Mengabdikan hidup dan waktunya untuk menjadi patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Yang namanya akan selalu hidup dalam sanubari murid-muridnya. Sebagai pelita dalam kegelapan. Laksana embun penyejuk dalam kehausan. Oh, muliamu guru…

Pada session ini disebut-sebut nama Buya Hamka yang membangun masjid Al Azhar, dan Bapak Maulwi Saelan sebagai pendiri Al Azhar yang ada di Kemang. Dijelaskan pula bahwa Al Azhar (dengan huruf hijaiyah: zai) berarti bunga, dan Al Azhar (dengan huruf dzha) berarti jelas/tegas. Dan nama SD kami menggunakan huruf hijaiyah yang disebutkan terakhir.

Visi misi, spiritualisasi, dan platform, mengisi waktu-waktu selanjutnya.

Session II
Sebagian peserta mengucek mata. Berusaha meremukkan beban yang menggelayuti kelopak mata mereka pada akhir session I tadi. Dan berhasil! Seorang Bapak yang penuh wibawa (berkumis), berkemeja putih motif garis-garis vertikal lengkap dengan dasinya, berperut buncit, duduk di belakang meja presentasi. Untuk menarik perhatian audience, dia berdiri.

Dia adalah orang yang entah dengan ilmunya ataukah sudah dari sononya, mempunyai kharisma yang membuat kami kembali lagi bersemangat. Wes…ewes…ewes… bablas ngantuke. Pria bernama Pak Ed itu ternyata adalah PH di salah satu SD filial di Jakarta. Hal-hal mengenai kemerdekaan kekurikuluman menjadi isu yang dia bawa untuk ditatarkan kepada kami. Dia mengajari bagaimana menghitung ketuntasan belajar, ketuntasan target kurikulum, etc. Walaupun 40% apa yang dia jelaskan sudah kami dapatkan sekaligus praktekkan di Solo, tapi kemampuannya berbicara membuat kami tetap ingin mendengarkan dan mendengarkan.

Session III
to be continued…

guru dan pengamat

3 Juli 2008 at 12:02 pm | In Uncategorized | 2 Comments

Profesi sebagai seorang guru bukan hanya menuntut untuk mengajar dan mendidik anak-anak tetapi juga harus menjadi pengamat. Pengamat politik, pengamat olahraga sampai pengamat program acara yang ditayangkan di layar kaca.

Beribu-ribu sinetron berduyun-duyun mengisi jam demi jam, channel demi channel. Coba tebak, berapa sinetron saat ini yang diputar oleh stasiun TV swasta Indonesia? Berapa pula yang sifatnya benar-benar mendidik? Itu baru sinetron. Belum tayangan film kartun. “Kartun”, namanya khas dengan dunia anak-anak. Namun tidak semua kartun yang diputar di GlobalTV dkk layak dikonsumsi anak-anak. Sponge Bob Square pants, misalnya. Film ini akan nampak lucu jika penontonnya mempunyai IQ yang sanggup menangkap lelucon yang ada, yang tidak dipunyai anak-anak. Entong? tidak jauh berbeda. Walaupun sinetron ini banyak dibintangi anak-anak, namun lebih banyak tidak mendidik daripada menyajikan sebuah tayangan yang sekedar menghibur.

Belum lagi laga penyanyi dangdut di TPI yang diproduseri seorang tuan bernama Takur. Gak penting banget!

Lihat acara Stardut beberapa hari yang lalu ? Acara ini dibuka oleh penampilan si TRIO biang p****grafi: Trio Macan. Tiga dara yang lekuk tubuhnya terbetot pakaiannya sendiri itu, seperti biasa, menyuguhkan tarian yang aduhai. Mereka nungging dengan membentuk formasi segitiga, lalu tahu khan?! Ya, benar! Mereka memutar-mutar kepala mereka sehingga mahkota wanitanya yang tergerai turut berputar-putar bak baling-baling. Buah dadanya nampak mau tumpah ketika mereka melakukannya. Tak tahu lah apa maksudnya. Mereka menggunakan tarian-tarian panas yang didukung pakaian yang panas sebagai umpan untuk memancing birahi lelaki biar kian memanas. Memicu adrenalin, memerahkan wajah, sampai-sampai mencopotkan bola mata. Mungkin hanya ini yang bisa mereka banggakan, tidak ada yang lain. Yah, jaman sekarang banyak wanita yang kian bangga jika aurat, harta berharga mereka, laris manis ditonton orang.

Tragis, jika DPR sempat menjadikan goyangan Inul sebagai agenda rapat mereka dan berakhir dengan insyafnya wanita asal Surabaya yang semasa kecilnya pandai bermain holahop itu, kenapa tidak dengan Trio yang personelnya berasal dari Jombang dan Lamongan itu ? Apakah guru-guru seperti aku harus demo untuk menyelamatkan akhlak bangsa ? APA KATA DUNIA ?!

Tugas tambahan bagi orang tua: mendampingi anak-anak mereka ketika sekedar ingin menikmati hiburan yang murah, menonton TV.

aku ‘kan datang

14 Juni 2008 at 9:46 am | In Uncategorized | 3 Comments

Tanggal 23-24 Juni 2008. Jika matahari masih bersinar di hari itu, maka untuk kali kedua aku akan menginjakkan kakiku di ranah jakarta.

Sedih, karena akan kuhadapi lagi ke-”keras”-an. Kemacetan yang begitu sangat. Polusi yang begitu pekat. Kepadatan yang begitu sesak.

Senang, karena di sana akan ada pembekalan.  Ada “saku” yang bisa ku gunakan untuk mengabdi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Sayang, karena di sana tidak ada kenalan yang bisa menjadi guide yang akan memandu jalan-jalan. Menunjukkan ini kota ini khas dengan ini. Jalan ini jam segini biasanya begini – macet.

Jakarta, aku ‘kan datang.

layar tancap

25 Mei 2008 at 6:59 pm | In Uncategorized | 2 Comments

SD kami terletak paling strategis diantara SD yang lain dalam satu kelurahan. Paling dekat dengan lapangan. Setiap kali pelajaran PD (sebutan untuk pelajaran praktek olahraga waktu itu) yang biasa dilakukan di lapangan, tidak perlu berjalan kaki terlalu jauh. Tidak seperti yang harus dilakukan rival-rival kami di dua SD lain. Kelurahan kami mempunyai tiga SD. Prestasi akademik SD kami yang pas-pasan adalah yang terbaik bila dibandingkan dua SD yang lain. Tetapi, untuk urusan prestasi olahraga, SD kami paling payah. Tidak pernah menang jika mengadakan pertandingan sepak bola dengan SD lain. Kekalahan-kekalahan itu membuat mental kami down dan menolak setiap kali tantangan datang. Karena itulah dua SD lain mengecap SD kami dengan sebutan SD penakut. Takut kalah sebelum bertanding karena kami tahu kami PASTI akan kalah.

Pintu SD kami menghadap lapangan, sehingga jika pulang sekolah kami langsung tahu hajatan-hajatan apa yang akan digelar di tanah lapang yang berlobang besar-besar di sana-sini itu. Hajatan yang paling sering adalah tontonan layar tancap.

Film-film yang diputar adalah film-film kolosal made in negeri sendiri: Tuturtinular dengan berbagai seri. Dari sebuah mobil, sinar yang memancar itu ditangkap sebuah layar yang membentang luas, pinggirnya terikat dengan tiang-tiang yang menancap di tanah, dan menghasilkan gambar bergerak. Suaranya akan lantang dan terdengar sampai radius 1 km.

Di tempat itu juga ada sekawanan orang membentuk lingkaran. Memangku gelaran tikar kecil bermotif bulatan-bulatan kecil yang dibatasi garis-garis yang membentuk kotak. Secara periodik akan ada dua dadu yang menggelinding di atas tikar kecil itu. Sebuah judi yang kami sebut: oklok. Nama ini diambil dari suara dadu yang membentur dinding kulit kelapa ketika dadu-dadu itu dikocok.

Tadi malam dalam perjalanan pulang dari Solo, aku melewati lapangan di depan SD kami dulu. Hajatan yang berpuluh-puluh tahun lalu diselenggarakan dan diminati warga sekitar, layar tancap, digelar kembali. Tetapi kali ini berbeda. Lebih nge-taste. Lebih mengglobal. Mungkin mengikuti arus globalisasi. Film yang diputar bukanlah film Indonesia tetapi film barat. Seperti film-film yang diputar di bioskop TransTV. Tuturtinular tidak lagi diputar. Mungkin filmnya sudah usang dan tidak layak diputar lagi. Mungkin juga si penyelenggara hajatan tahu bahwa kini masyarakat lebih suka nonton film dengan text bilingual dari pada film dalam negeri. Masyarakat mencintai sekaligus membenci negerinya sendiri. Mencintai sebagai tanah airnya, membenci karena tahu bahwa sekarang pemerintah, yang katanya demokratis, tidak lagi memihak mereka.

field trip dan semangat mereka

24 Mei 2008 at 10:05 am | In Uncategorized | 3 Comments

Hatiku cerah secerah langit pagi itu. Hamparan yang mahaluas nampak halus. Biru. Payung bumi itu kian nampak indah dihiasi gumpalan awan tipis seperti kapas putih bersih. Dan di sana, di bawah langit biru itu anak-anak berhambur di halaman. Menggerombol menurut kelas mereka. Membentuk barisan yang masih seperti ular naga. Meliak-liuk ke kanan dan ke kiri. Yanda Roz menyiapkan barisan menggunakan microphone. Suaranya diubah menjadi listrik dan dikembalikan dalam bentuk suara dengan volume yang lebih besar oleh tape buatan anak negeri: Tens. Kini barisan nampak rapi. Lurus. Riuh rendah pun menguap dan diterbangkan oleh kesadaran dan keinginan untuk memperhatikan Yanda Roz, sang pemimpin.

Bunda dan yanda wali kelas membagi snack yang bangunnya kesiangan: datang terlambat. Snack yang dikemas dalam kantung plastik elegan itu dibagikan kepada anak-anak. Yanda Roz yang di depan menanyakan siapa-siapa yang mabuk kendaraan. Banyak sekali yang menunjukkan jari. Ada yang benar-benar mabuk kendaraan, ada juga yang hanya ingin merasakan obat antimo cair rasa jeruk itu. Bukti kemajuan jaman: obat tidak lagi pahit sehingga tidak sakit pun rela minum obat. Yanda-bunda membagikan obat cair pencegah mabuk kendaraan itu kepada mereka-mereka yang mengaku mabuk kendaraan.

Di depan kini bertambah satu yanda lagi. Berkemeja biru dan berdasi. Wajahnya kian nampak berwibawa karena kumis tebal yang melekat diatas bibirnya. Peci hitam yang dia kenakan memberikan kesan kearifan. Dia adalah orang nomor satu di SD kami. Yanda Ron. Orang nomor satu untuk kategori jabatan: kepala sekolah. Orang nomor satu untuk kategori usia: paling tua dewasa. Orang nomor satu untuk kategori kewibawaan: berkumis. Dan wibawanya itu telah sanggup menghilangkan nyali anak-anak untuk tidak serius.

Yanda Ron menyuruh anak-anak untuk mengangkat tangan. Maka tidak ada yang tidak mengangkat tangan. Dia memimpin doa.

Hati ini terasa ringan. Yakin bahwa kegiatan yang mana aku sebagai ketupat (ketua panitia), akan berjalan lancar. Yanda-bunda yang handal ada di belakangku. Dan mereka bisa diandalkan.

Museum Dirgantara Mandala. Sebuah patung garuda mencengkeram pita yang aku lupa bertuliskan apa, dan empat buah patung yang salah satunya adalah patung Adi Sucipto: penerbang pertama dan termuda pada jaman penjajahan, seakan menyambut kedatangan kami. Gaya patung-patung itu mengisyaratkan bahwa mereka adalah patung orang-orang yang telah tertempa jiwa kedisiplinannya di dunia militer.
Di dalam museum terdapat baju penerbang yang sudah usang warisan para penerbang yang sulit ku hapalkan namanya dan benda-benda berbau antariksa lainnya.

Anak-anak yang telah mendaftarkan diri untuk berfoto memakai baju pilot dan berdiri di depan pesawat, diambil gambarnya oleh mas-mas. Mas itu, jika usahanya diibaratkan keluarga, sebatang kara. Tidak ada asisten yang membantu. Akhirnya, yanda-bunda wali kelas harus berberat hati menjadi asisten “pocokan” dengan upah lelah. Mengganti baju hampir seratus anak. Dan Mas Sebatang Kara itu hanya jeprat-jepret saja.

Dalam perjalanan pulang, di dalam bis, anak-anak terhibur dengan lagu-lagu kakak-kakak mereka: The Rock-Munajat Cinta, Ungu-Akulah Para Pencarimu, Matta-Ketahuan, T2-Pacar Cadangan. Lagu-lagu itu tidak hanya masuk dalam list lagu favorit kakak-kakak mereka, tetapi nampaknya masuk juga dalam lagu wajib mereka. Pasalnya, mereka hapal dan turut bernyanyi, menjadi backing vocal dengan suara satu, suara dua, suara tiga. Ada juga yang bernyanyi dengan memberikan “ornamen-ornamen” nada yang ngalor-ngidul sehingga terkesan bahwa lagu itu adalah lagu ciptaan mereka sendiri.

“Kami sudah sampai Klaten. Alhamdulillah lancar, Yanda”. Pesan singkat itu melayang dengan tujuan: hp Yanda Ron. Alhamdulillah, lancar.

kasih sayang dan sungai

11 Mei 2008 at 5:47 pm | In Uncategorized | 4 Comments

Angin kemarau menabraki jaket yang kukenakan sehingga menimbulkan suara: begh…begh…begh… Hari telah menghalau sinar mentari sehingga alam nampak gelap. Kendaraan mulai menyalakan lampu begitu juga rumah-rumah di pinggir jalan ini.

Perjalanan pulang dari desa Imogiri, Bantul. Sebuah desa yang tenar dengan gurahnya. Dulu sempat ingin gurah. Biar napas ini lebih plong dan suara lebih lantang. Tapi mendengar efek samping dari gurah: pusing, badan seperti dipukuli, sakit, nyaliku jadi ciut. Biarlah Noeg dulu yang menjadi kelinci percobaan untuk membuktikan hipotesa yang kudapat dari teman-teman di SD.

Setelah bertanya padanya layaknya seorang wartawan yang mewawancarai seorang narasumber, barulah aku membulatkan tekadku. Suatu hari nanti aku kan kembali lagi ke Bantul. Mengikut jejak Noeg.

Di perjalanan pulang ada sebuah truk berbak warna coklat tua melanggar sepeda motorku. Di pantat truk itu, lebih tepatnya di pintu bak tertulis: kasih sayangnya seperti sungai. Tidak tahu “nya” siapa. Hanya sepenggal kalimat itu saja. Lalu aku berpikir. Kenapa penulis mengumpamakan kasih sayang”nya” dengan sungai ? Pikirku melayang pada sungai kecil di dekat rumah. Jika kemarau datang, sungai itu kering tidak mengalirkan air. Pak tani tidak bisa memberdayakannya dan sungai itu untuk sementara tidak bermanfaat bagi penduduk desaku. Saat itu juga dia, sungai itu, akan tampak kotor. Rumpun pohon bambu yang ada di kanan kiri sungai akan menjatuhkan daunnya ke badan sungai. Karena tidak ada air, maka daun-daun kering itu mengonggok di sana-sini. Kelakuan warga juga akan memperparah tampang sungai itu di musim kemarau. Mereka nekad membuang sampah ke sungai. Dan, tidak akan ada air yang akan mengantarkan sampah-sampah itu ke hilir sungai dan akhirnya sampai di laut. Sampah ngetem di situ menunggu air yang akan dia tumpangi. Maklum, warga tidak punya TPA.

Desember tahun lalu sungai Bengawan Solo mengamuk. Di musim penghujan itu dia menghanyutkan ratusan mungkin ribuan rumah penduduk, ratusan hektare sawah, dan menjadi trauma tersendiri bagi korbannya.

Kembali ke: kasih sayangnya seperti sungai. Kalau seperti sungai, berarti kasih sayang”nya” akan tampak kotor karena digunakan untuk ngetem para sampah di musim kemarau dan tidak bermanfaat. Bila musim penghujan tiba, kasih sayang”nya” sewaktu-waktu bisa mengamuk. Merugikan. Kasih sayang”nya” bisa kering, bisa juga banjir. Kalau kering tidak bermanfaat, kalau banjir mendatangkan kerugian.

Sampai sekarang aku belum maksud dengan tulisan itu.

ekpeyet

9 Mei 2008 at 4:29 pm | In Uncategorized | 1 Comment

Aku sebut saja dia Lida. Sebutan itu kupenggalkan dari sederetan nama panjangnya. Postur tubuhnya semakin nampak mungil karena “mahkotanya” yang ditutupi jilbab. Tetapi, dibalik mungil tubuhnya tersimpan sebuah semangat kompetisi yang tinggi, potensi untuk mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab. Dia begitu ingin mengetahui siapa yang menduduki peringkat teratas di kelas, siapa yang peringkatnya ada di atas dia, yang ada di bawahnya. Jika menerima pesan dari mamanya, pagi-pagi begitu dia masuk kelas, dia langsung menyampaikannya kepadaku. Tidak menunda sampai nanti. Takut lupa, mungkin.

Mamanya, dia adalah “mama atensi”. Ku sebut demikian karena setiap kali berkomunikasi denganku melalui sms, dia selalu membalas: terima kasih atensinya.

Jam 09.55. Anak-anak ku suruh cuci tangan untuk persiapan makan pagi. Setelah berkumpul lagi di kelas dan berdoa, mereka menyantap hidangan cateringnya.

Lida mendekati mejaku dan bertanya, “Yanda, ekpeyetnya boleh dimakan tidak ?” katanya sambil menunjuk dasaran tempat cateringnya yang bulat berwarna merah.

Mendengar pertanyaannya aku malah bertanya-tanya. Ekpeyet itu apa ? Apakah itu semacam landasan tempat catering ? Atau sesuatu yang digunakan untuk melapisi makanan ? Terbuat dari kardus ?
“Ekpeyet itu apa ?”
“Itu lho, Yanda yang biasanya ada di makanan itu lho”, jelasnya padaku.
Aku masih belum paham maksudnya. Lalu dia mengambil snacknya dan menunjukkan padaku. Telunjukknya menunjuk tanggal kadaluarsa.
“Ooo,… expired to…” barulah aku paham. Expired dia ucapkan ekpeyet. Yah, seperti mengucapkan tempe penyet.

Lain lagi beberapa hari yang lalu. Pagi itu dia membawa pesan dari mamanya, “mama atensi”. Sebuah pesan berisi pertanyaan.
“Yanda, kalau mau membayar isi ulang bisa titip Yanda ?”

“Isi ulang ?” Isi ulang air mineral itu ? Aku kan tidak buka usaha depot isi ulang air minum!
“Iya, yanda kalau mau naik kelas tiga khan harus isi ulang”, jelasnya.
“Ooo… daftar ulang maksudnya ?!”

Ini anak, expired dibaca ekpeyet, daftar ulang dikatakannya isi ulang…

pramuka

21 April 2008 at 11:54 am | In Uncategorized | 5 Comments

Cahaya lampu philip save energy menerangi beberapa sudut saja ruang kamarku. sudut yang lain gelap karena masuk di daerah “umbra” meja dan monitor komputerku. lampu putih itu kupasang (kutancapkan) di stop kontak yang letaknya 50 cm saja dari lantai. tepat di depan lampu itu, sebuah logam panas meluncur kesana-kemari. berusaha menghaluskan sepotong baju seragam coklat: pramuka. dari lubuk hati yang paling dalam, aku tidak sreg memakai seragam ini. Pramuka, beri aku waktu untuk mencintaimu. Maaf ya, Pak Powel.

Sewaktu SD aku hanya mengenakannya begitu saja. Tanpa atribut lengkap. Tidak ada hasduk, baret, dan badge yang semestinya dijahit di lengan dan saku. Bapak dan Ibu guru tidak pernah memberikan teguran perihal seragam kami. Mungkin sudah cukup membahagiakan bagi mereka jika kami belajar dengan tekun dan tidak nunggak membayar SPP yang waktu itu hanya Rp1.200,- perbulan. Uang saku yang Rp100,- sudah dapat “brambang asem” dan es kucir di warungnya Lik Ndoyo, seorang istri tukang kebun sekolah kami sekaligus ibu kantin semata wayang. Sebuah “kemakmuran” yang masih kami rasakan dan dirasakan rakyat Indonesia pada umumnya karena apa-apa murah.

Setiap kali mengadakan kemah Persami, aku tidak pernah terpilih untuk mewakili sekolah. Yang dipilih hanya anak-anak putri. Mungkin pikirnya guruku waktu itu, kemah  identik dengan memasak nasi sendiri menggunakan “kendhil” yang akan digantung dan dibakar dengan menggunakan kayu. Dan itu adalah pekerjaan perempuan (Ibu memasak di dapur. Ayah membaca koran di teras). Jadi, biarlah perempuan-perempuan saja yang ikut agar mendapat pelajaran bagaimana menanak nasi. Yang laki-laki belajar membaca koran. Setiap kali ada pesta siaga, guruku tidak pernah mempersiapkan aku dan timku dengan matang. Apa yang kami tampilkan hanya spontanitas. Dan sebagaimana hasil yang berbanding lurus dengan usaha, sekolahku tidak pernah mendapat peringkat. Pun juara harapan.

Setiap hari Kamis, kami yanda dan bunda mengenakan seragam pramuka. Kali ini lengkap. Berbeda dengan sewaktu SD. Kami mengenakan seragam pramuka dengan hasduk dan segala badgenya. Di atas saku baju yang sebelah kiri tertempel bordiran nama SD kami.

Hari Kamis sore itu sebelum aku “nyangkul” (sebutan yang diberikan oleh teman-teman kuliah dulu untuk pekerjaan sambilan: ngeles privat), aku mampir di sebuah masjid di Mojosongo, masih berseragam hanya tanpa hasduk dan peci yang biasa aku pakai sewaktu mengajar. Setelah sholat ashar, aku duduk-duduk di teras masjid. Pemuda belasan tahun tersenyum padaku.
“SMA mana, Mas ?” sapanya padaku.
Aku tersenyum simpul. Kupandangi wajahnya. Dan dapat kutangkap bahwa dia adalah pemuda baik nan lugu. Itu menurutku.
“Saya di SD, koq Mas” jawabku
Yang bertanya semakin keheranan begitu mendengar jawaban dariku.
“Saya mengajar di SD” lanjutku tidak tega melihat wajahnya yang semakin gencar memancarkan tanda tanya.
“Ooo… ngajar to. Saya kira masih SMA”. Pemuda itu berlalu menahan malu.

Dan di hati ini, “Apa aku terlalu muda untuk menyandang predikat pak guru? Ataukah pemuda itu hanya terkelabui dengan seragam dan postur tubuhku ?”

 

kemah dan alat sholat

19 April 2008 at 6:09 pm | In Uncategorized | 3 Comments

Aku terbangun pada pagi yang cerah. Ya,… cerah karena aku bangunnya kesiangan. Coba kalau in the early morning. Pasti belum bisa mengatakan apakah pagi ini cerah atau tidak karena cuaca sekarang suka berubah mendadak. Jedug-jedug suara musik yang mengiringi lagu yang dinyanyikan Mulan Jameela merontokkan rasa malasku.

Mendidik anak-anak kelas Ali makin banyak kurasakan hikmahnya. Banyak pelajaran yang bisa aku unduh. Ketika mereka bertengkar, aku harus menjadi hakim yang adil menurut kaca mata mereka. Aku harus benar-benar mendengarkan kesaksian mereka satu persatu. Dengan teliti memilah mana kata-kata yang merupakan pembelaan dan mana kata-kata yang dibelokkan untuk menutupi kesalahan. Setelah tahu duduk permasalahannya, aku akan kembali bertanya kepada mereka apakah tindakan mereka dapat dikatakan benar atau tidak. Meyakinkan bahwa dia bersalah dan harus minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Siang ketika tinggal beberapa anak saja yang belum pulang, menunggu jemputan. Aku mengoreksi pekerjaan Bahasa Indonesia mereka. Minggu yang lalu ku berikan PR untuk merencanakan kemah. Mereka harus menulis tanggal, jam, tempat dan peserta yang mengikuti kemah. Di bawahnya ada kolom keperluan/barang apa saja yang harus mereka bawa. Sebagian besar mereka menuliskan: tenda, peralatan mandi, peralatan memasak, makanan, bantal, dan guling. Mereka menuliskan keperluan-keperluan itu dengan urutan yang berbeda. Natilla berbeda dengan sebagian mereka. Dia menempatkan: peralatan sholat di urutan pertama.Baru perlengkapan mandi, makan dan yang lainnya. Aku tersenyum bangga dengan anak ini. Tidak peduli apakah jawabannya itu hasil dari bantuan orang tuanya atau merupakan jawaban inisiatifnya sendiri. Bahkan, jika orang tua yang membantunya mengisi, satu lagi pelajaran yang aku petik: kalau anak akan kemah, peralatan yang harus dicatat di urutan pertama dan tidak boleh mereka lupakan untuk dibawa adalah peralatan sholat.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.